Kepindahan Bhayangkara FC ke Lampung dilakukan beberapa saat setelah meraih tiket promosi ke Liga 1 2025/2026 dengan menduduki posisi kedua Liga 2 2024/2025. Hanya semusim Bhayangkara FC menghuni Liga 2 setelah terdegradasi dari Liga 1 2023/2024.
Bhayangkara FC sudah berpindah markas sebanyak 4 kali sebelum memutuskan ke Lampung. Pada awal terbentuk dari merger klub Surabaya United dengan tim Polri, Bhayangkara FC sempat bermarkas di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Kemudian pindah ke Bekasi, Jakarta dan Bekasi/Cikarang.
Chief Operations Officer (COO) Bhayangkara FC, Sumardji, membeberkan alasan The Guardians pindah ke Lampung: karena diminta langsung oleh beberapa suporter di Lampung.
"Keberadaan Bhayangkara memang betul-betul dari dulu menginginkan adanya fans yang betul-betul natural. Nah sekarang ini sudah terjawab. Maka dengan adanya kondisi yang seperti itu, kami hanya bisa mempersembahkan prestasi untuk masyarakat Lampung," ujar Sumardji.
Lampung dengan jumlah penduduk 9,62 juta jiwa (data 2026) tidak memiliki klub yang bermain di Super League (nama baru Liga 1). Bahkan yang berlaga di Liga Championship (Liga 2) pun tidak ada. Terakhir kali klub yang bermarkas di sana adalah Badak Lampung FC pada Liga 1 2019. Setelah itu, Badak Lampung FC degradasi hingga ke Liga 3
Prestasi bagi masyakat Lampung juga sudah diberikan. Penampilan Bhayangkara FC di kompetisi pun terbilang konsisten. Saat ini klub milik Kepolisian Negara Republik Indonesia itu mampu bertahan di papan tengah, menduduki peringkat ke-6 dengan 41 poin dari 25 pertandingan. Pencapaian yang mendekati target masuk 5 besar, seperti pernah disampaikan Sumardji sebelum Super League bergulir.
Bagaimana kita melihat langkah Bhayangkara FC ini?
Perubahan nama dan pemindahan markas jelas Keputusan yang jelas dari manajemen Bhayangkara untuk melakukan rebranding.
Alasan
Ada beberapa alasan strategis melihat Langkah itu:
1.Mengubah persepsi publik
Selama ini Bhayangkara FC sering dianggap sebagai klub "institusi", bukan klub dengan identitas daerah yang kuat. Kondisi ini menimbulkan beberapa persepsi publik: klub tidak memiliki basis suporter organik, klub "ditopang institusi", bukan masyarakat dan loyalitas suporter tidak terbentuk secara alami.
Meski begitu ada sisi lain yang memang dibutuhkan institusi kepolisian, yakni keberadaan Bhayangkara FC yang memiliki makna strategis. Klub sepak bola bisa menjadi instrumen soft power untuk: mendekatkan institusi kepolisian dengan Masyarakat, membangun citra humanis dan menciptakan ruang interaksi sosial melalui olahraga.
Banyak negara menggunakan olahraga sebagai alat diplomasi sosial. Semisal PSV Eindhoven dulu identik dengan perusahaan Philips atau Bayer Leverkusen berasal dari perusahaan Bayer. Keduanya berhasil berkembang menjadi klub publik dengan basis suporter kuat.
Bisa juga dengan melihat klub di Asia, seperti Asan Mugunghwa FC yang milik kepolisian Korea Selatan.
Transformasi yang mereka lakukan terjadi pada 2020 saat berubah menjadi Chungnam Asan FC. Tak hanya itu, Kepolisian keluar dari kepemilikan langsung. Klub diambil alih pemerintah daerah dan investor lokal.
Klub lain, masih di Korea Selatan adalah Sangju Sangmu FC, awalnya klub militer yang menjadi tempat pemain menjalani wajib militer.Klub ini dikelola oleh militer, tetapi bermain di liga profesional.
Mereka melakukan relokasi pada 2021 dan mengganti nama menjadi Gimcheon Sangmu FC. Pemerintah kota Gimcheon ikut terlibat dalam manajemen. Klub lebih terintegrasi dengan komunitas lokal.
Namun,rebranding harus dilakukan dengan tujuan mengubah legitimasi klub dari klub institusi klub masyarakat.
Ini penting karena dalam sepak bola modern, legitimasi sosial berasal dari suporter.
Maka, dibutuhkan basis supporter nyata yang loyal, seperti yang dilakukan klub sepak bola modern. Di Liga 1 Indonesia, klub dengan identitas kuat dan supporter besar memiliki daya saing lebih tinggi. Kita bisa menyebut Persija Jakarta, Persib Bandung, PSIS, Persebaya atau PSS Sleman.
2.Meningkatkan nilai komersial klub
Rebranding Bhayangkara FC tidak hanya persoalan bisnis sepak bola, tetapi juga menyangkut legitimasi sosial, identitas institusi, dan strategi komunikasi publik.
Dalam sepak bola modern, klub juga merupakan entitas ekonomi. Tanpa suporter kuat, klub akan kesulitan dalam menjual tiket dan merchandise.
Rebranding bisa membuka peluang lebih luas: sponsor, merchandise, dan kerja sama bisnis.
Bhayangkara bisa menggandeng sponsor lokal dan kerja sama pembangunan akademi sepak bola di Lampung.
Langkah ini menunjukkan bahwa klub mencoba terintegrasi dengan ekosistem sepak bola lokal, sekaligus imembangun akar jangka panjang di daerah baru.
3. Identitas daerah
Manajemen mulai mengasosiasikan klub dengan Lampung sebagai identitas utama. Bahkan pemerintah daerah menyebut klub ini sebagai kebanggaan baru masyarakat Lampung.
Ini adalah strategi rebranding yang disebut localization strategy, yaitu:
- klub mencoba menjadi simbol kebanggaan daerah
- bukan hanya klub institusi.
4. Narasi "semangat baru"
Dalam komunikasi publik klub bisa dimunculkan slogan seperti "tanah baru, semangat baru" ketika memperkenalkan identitas Lampung.
Narasi seperti ini biasanya digunakan dalam rebranding untuk menandai fase baru organisasi, menghapus citra lama dan membangun optimisme publik.
Tantangan
Ada beberapa tantangan yang sangat menentukan:
1. Persepsi Publik
Citra sebagai klub institusi masih sangat kuat. Ini harus diubah melalui komunikasi publik yang konsisten.
2. Konsistensi Manajemen
Rebranding membutuhkan waktu panjang. Minimal 5--10 tahun untuk membangun identitas klub yang kuat.
Skenario
Ada tiga kemungkinan masa depan Bhayangkara FC.
Skenario 1: Rebranding Berhasil.
Klub berhasil menemukan basis kota, membangun suporter baru dan meningkatkan prestasi.
Bhayangkara FC menjadi klub stabil Liga 1 dengan basis fans sendiri.
Skenario 2: Rebranding Parsial
Perubahan terjadi, tetapi tidak cukup kuat. Klub tetap bertahan di liga, tetapi basis suporter tidak berkembang signifikan.
Skenario 3: Rebranding Gagal
Jika tidak menemukan identitas baru, klub akan tetap dianggap klub tanpa akar sosial. Ini membuat pertumbuhan klub stagnan.
Pada akhirnya, rebranding Bhayangkara FC memang harus dilakukan. Rebranding itu sebenarnya adalah proyek transformasi sosial dan institusional.
Tujuannya bukan sekadar mengganti identitas visual, tetapi:
- membangun legitimasi publik
- memperkuat hubungan dengan masyarakat
- menciptakan basis suporter nyata
- meningkatkan nilai ekonomi klub
- memperkuat posisi di Liga 1 Indonesia.
Jika berhasil, Bhayangkara FC bisa menjadi contoh transformasi klub institusi menjadi klub profesional modern di Indonesia. ***
Sumber: https://www.kompasiana.com/johannessugianto/69b7bb9834777c64081f5372/rebranding-bhayangkara-fc-bisa-jadi-contoh-transformasi-klub-institusi?page=5&page_images=1

No comments:
Post a Comment