Di Peron Sore Itu



penantian di bangku peron 

telah meyakinkan kita

bahwa setiap sudut ruang

punya kisah sendiri


tanpa kita sadari

itu menjadi bagian dari perjalanan 

yang entah berujung pada malam

sembari menanti kapan angan tergenggam


dalam penantian yang sama

terasa betapa menyedihkan mencintaimu

melawan cemburu yang seperti pencuri

datang tanpa permisi


ternyata mencintaimu tak semudah pidato

para pemimpin yang makin memuakkan

mengikis segala kepercayaan

akan apa yang kita sebut harapan


betapa menyedihkan mencintaimu 

mendengarkan denting piano

yang bukannya menenangkan

malah menghadirkan perih perlahan


di bangku peron saat sore tiba

meyakinkanku bahwa mencintaimu

perlu perlawanan tak sekedar

perlu tawa dalam pedih air mata


betapa aku mencintaimu


2026

Comments