Sunday, June 30, 2024

0

Sungguh


seperti yang kau dan aku tahu
waktu memang bukan ruang
mengalirnya seperti arus sungai
tempat suka dan duka terbuang

biar berdiri di titik yang sama
tapi di sungai itu kita tak pernah
dibasuh oleh air yang sama

dalam ruang juga kita mendengar nyanyian
yang pernah jadi lambang janji
tentang masa depan
yang entah telah menjadi sepi

kini dalam waktu yang bisu
aku menikmati kekosongan kelabu
dan sakit yang bertubi-tubi

sungguh
kesepian ini begitu sengit

siang, 2009




 

Saturday, June 29, 2024

0

PSS Sleman Selalu di Hati Brian Ferreira

 

Brian Ferreira saat berkostum PSS Sleman (Foto : Dok. PSS)


Sebagai pendatang baru di Liga 1 2019, PSS Sleman menjadi tim yang mengejutkan, menduduki posisi ke-8 di akhir musim kompetisi. Klub yang punya julukan Super Elang Jawa itu baru promosi setelah menjuarai Liga 2 2018.

Sebelum berakhirnya kompetisi, PSS bahkan sempat menikmati posisi ke-5 setelah bermain imbang 0-0 di pekan ke-31, Desember 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Sayangnya, setelah itu PSS Sleman tidak bisa mengulangi prestasinya di musim-musim berikutnya. Bahkan sempat terseok-seok, terancam degradasi.

Di Regular Series Liga 1 2023/2024 bahkan harus berjuang di laga terakhir, minggu 34 untuk lolos dari jeratan degradasi. Super Elja menduduki posisi ke-13 dengan perolehan 39 poin, dengan hanya 9 kemenangan dan 13 kekalahan dan 12 seri.

Salah satu faktor yang membuat PSS Sleman tidak mampu mengulangi raihan manisnya  adalah tidak adanya playmaker handal, yang di musim 2019 disandang oleh gelandang serangnya, Brian Ferreira.

Pemain kelahiran Buenos Aires, 24 Mei 1994 itu juga memanjakan striker PSS, Yevhen Bokhashvili, striker asal Ukraina dengan umpan-umpannya. Keduanya menjadi sayap yang ganas bagi PSS Sleman.

Sayangnya, Brian mengalami cedera pada pekan ke-24 Liga 1 2018/2019. Ia harus melewatkan 10 pertandingan PSS Sleman.

Seusai kontraknya tidak diperpanjang, ia bergabung dengan Madura United, kemudian ke PSIS Semarang, Persela Lamongan dan terakhir berlabuh di Persiraja Banda Aceh.

Saat ini Brian bermain di La Luz, klub yang berkompetisi di Divisi Dua Uruguay.

“Satu musim bersama PSS Sleman merupakan momen yang tak terlupakan,” ujar Brian yang genap berusia 30 tahun saat saya hubungi lewat Whatsapp baru-baru ini.

Di musim Liga 1 2019, Brian menjadi bagian dari gerbong pemain asing PSS Sleman bersama Yevhen Bokhasvili, Alfonso de la Cruz (Spanyol)  dan Guilherme Batata (Brasil).

Tampil sebagai starter pada laga pertama PSS menghadapi Arema 15 Mei 2019, Brian langsung mencetak gol dalam laga yang berakhir dengan 3-1 untuk kemenangan Super Elja di Stadion Maguwoharjo.

Mantan pemain Johor DT itu tampil impresif bersama dengan mengoleksi 9 gol dan 5 assist dalam 20 pertandingan sebelum didera cidera.

Sangat Penting

Pemain bernama lengkap Brian Federic Ferreira itu sudah mengenal sepakbola sejak berusia 8 tahun. Klub pertamanya adalah Velez Sarsfield hingga menjadi pemain Timna Argentina U-20. Setelah itu ia melangkahkan kakinya menjadi pemain professional.

Menurut pemain yang mengidolakan Zidane dan Riquelme, sepakbola Argentina sangat sulit, sangat tangguh dan membutuhkan fisik prima. 

Sedang perkembangan sepakbola di Indonesia, dinilainya sudah maju dan arahnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.


Tentang PSS Sleman, Brian selalu mengingat suasana kekeluargaan dalam dan supporter yang luar biasa. Terbukti dari masih seringnya mereka berkirim pesan di akun Instagramnya, @ferreirabrian.32.

“Fans selalu menulis kepadaku dan menunjukkan cinta mereka. Ini adalah sebuah keluarga yang saya harap suatu hari nanti saya bisa kembali,” ujar lelaki yang suka menghabiskan waktunya bersama keluarga dan travelling.

Perkembangan klub dan apa yang dilakukan para pendukung PSS Sleman selalu diikutinya.

“Mereka supporter yang luar biasa.”

“Mereka selalu menulis pesan kepada saya dan menunjukkan cinta mereka, saya bersyukur.”

Brian yang memiliki dua kewarganegaraan, Argentina dan Irak, mengaku rindu akan teriakan supporter di Stadion Maguwoharjo yang saat ini sedang direnovasi. Juga sapaan ramah dari supporter usai pertandingan, melayani mereka  yang ingin berfoto atau minta tanda tangan.

“Pengalaman saya di PSS sungguh luar biasa. Saya selalu mengingatnya dengan penuh kasih sayang. Ini adalah klub yang sangat penting dalam hidup saya,” ujarnya.

Apakah ingin kembali memperkuat Super Elja?

“Semuanya serba mungkin. Kondisi saya saat ini tidak ada masalah. Tentu ada kerinduan kembali ke Sleman, bertemu fans, menikmati keramahan masyarakat sana,” kata pemain bernomor punggung 32 saat berkostum PSS Sleman itu.

Come back bukan sesuatu yang aneh di dunia sepakbola. Publik pun tahu bagaimana Brian bermain, menjadi play maker, memberi assist dan menjebol gawang lawan. 

Dari segi usia pun ia masih 30 tahun. Usia matang bagi seorang pemain. Tinggal bagaimana angin berhembus, akankah membawa kembali Brian ke PSS Sleman seperti yang diinginkan supporter, ***

 

 

 

 

 

 

 

 

0

Memintal Helai Kehidupan Lewat Siter

 


 

Di panggung yang terlihat tidak terlalu luas, tiga perempuan dan tiga laki-laki menyajikan musik yang didominasi siter (alat musik Jawa). Siter itu dimainkan oleh tiga perempuan itu, dengan kebaya yang menambah kecantikannya dan satu lagi, lelaki dengan blangkonnya. Dua pemain lainnya memainkan kendang dan bass.

Ya siter, alat musik yang hampir punah karena bisa dihitung dengan jari para pemainnya. Alat musik yang seperti halnya gamelan, rebab atau bonang yang makin ditinggalkan oleh generasi muda. Warisan budaya yang makin terlupakan, senyap dalam kemajuan jaman yang pengap. Anak-anak muda yang lebih memuja boy band Korea, penyanyi atau grup yang kadang tampil sebentar lalu tenggelam.

Kesenyapan yang menimbulkan kegelisahan dari mereka yang berpuluh tahun mencoba mempertahankan eksistensi siter. Sangat minimnya minat anak muda untuk mencoba menekuni siter membuat para maestro di beberapa daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta misalnya merasa prihatin.

Sebuah media pernah menulis, edisi 16 Februari 2017, di Kebumen, Jawa Tengah tinggal Sutirah, perempuan yang memasuki usia senja yang masih berprofesi sebagai pesinden siteran. Dalam upaya menghidupkan siteran, perempuan renta itu melakukannya hanya dengan cara ngamen dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menopang ekonomi keluarganya..

Kegelisahan untuk meneruskan kesenian siter juga disampaikan oleh Rukini, maestro siter dari Bojonegoro, Jawa Timur. Para pemain yang ada, termasuk dirinya, sudah tak sebugar dulu. Ditambah lagi tak ada yang tertarik memainkan musik tradisional itu. "Orang-orang bingung, siapa yang main siter setelah ini," tutur Rukini yang sudah menetap di Bojonegoro sejak 1980-an itu.

Ketiga perempuan itu tergabung dalam Siter Sister  (SS), kelompok yang memainkan siter dan membawakan lagu-lagu tradisional, pop hingga campur sari. Mereka adalah Krizma, Lukita, dan Feryna (yang merangkap sebagai penyanyi).

Saat tampil SS menghadirkan Ari Tejo yang bermain siter, Yoyok (kendang) dan Aam (bass). Maka di poster atau promosi lainnya selalu tertera "Siter Sister & Friends". Penampilan mereka tampak padu, suara siter, vokal Feryna, kendang dan bass menghadirkan alunan lagu yang melenakan, kadang juga membuat penonton ikut bergoyang.

Seperti saat diundang untuk tampil dalam pembukaan pameran lukisan karya Hani Santana di Museum Affandi, Yogyakarta pada 5 November 2021 lalu. Meski hanya membawakan beberapa lagu, penampilan SS mengundang decak kagum. Banyak yang tak menyangka siter dimainkan oleh tiga perempuan cantik dan menghasilkan nada-nada yang membuai pendengarnya.

Meski mereka merasa belum sampai pada titik untuk disebut sebagai penerus para maestro itu. namun kemunculannya membersitkan harapan akan terus hidupnya siter. Tentu hal itu tak hanya jadi "tugas" ketiga ibu rumah tangga itu, tapi juga perempuan lainnya.

Krizma, yang juga merangkap manajer SS, menuturkan lahirnya SS bukan merupakan sesuatu yang direncanakan. Masing-masing yang sudah berteman cukup lama lalu belajar sendiri, sampai merasa makin mencintai siter yang mempunya 11 dan 13 pasang senar itu. Hingga bertemu Ari Tejo, yang menjadi guru mereka dan tetap mendampingi saat SS tampil di panggung.


 

Kuku Patah

Awalnya, belajar secara bertahap dari siter peking (bentuknya kecil, jauh lebih murah) yang terbuat dari kayu standar. Setelah belajar sekian lamanya, mereka melihat adanya perbedaan cukup besar antara siter peking dengan yang dimiliki sang guru. Terutama adanya suara bass yang membuat bisa masuk ke lagu-lagu genre lain.

Belum lagi, tambahnya, kayunya yang bagus, dengan seni ukir tinggi dan memiliki kaki sebagai penyanggah siter menjadi pesona tersendiri. Sebuah kerajinan tangan yang bagus dan berkualitas. Sedangkan siter peking tidak memiliki kaki, jadi saat berlatih kotak kayu tempat penyimpanan alat musik itu yang jadi kakinya.

"Semua itu merupakan perjuangan yang tidak mudah. Sebagai ibu rumah tangga dengan uang dapur yang terbatas, harus menyisihkan untuk membeli sitar besar yang indah itu. Dari beberapa penampilan, honor yang didapat bisa dikumpulkan untuk membeli siter besar. Akhirnya impian itu terwujud,"tutur Krizma yang mendapat anggukan dari Feryna dan Lukita.

Ditambah lagi penyesuaian jemari lentik yang berbeda dengan lelaki sudah merupakan kendala tersendiri bagi mereka. Jempol merupakan alat utama untuk menghasilkan denting nada-nada yang diinginkan. Mereka sering terpeleset karena jemari terlalu dalam saat memetik senar. Maka soal kuku patah bukan merupakan hal yang aneh. 

Siter memiliki 11 dan 13 pasang senar, dan direntangkan di antara kotak resonantor. Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan.

Namun, meski sudah belajar dari siter peking untuk menguasai nada dari senar siter, namun tetap membutuhkan adaptasi tersendiri ketika beralih ke alat musik yang lebih besar. Ini tak lepas dari bentuk tangan perempuan yang kecil, yang harus disiasati agar bisa menghasilkan bunyi yang lebih enak dan empuk untuk musik-musik non tradisional.

"Ditambah lagi telinga kita terbiasa dengan nada-nada diatonik (do re mi), tapi nada di siter itu pentatonik. Bagi yang terbiasa mendengarkan lagu-lagu Jawa atau Sunda, mungkin tak asing. Bagi yang jarang mendengarkannya, penyesuaiannya cukup sulit dan lama,"jelas Krizma.

Apa yang dikatakan Krizma tentang nada pentatonik itu diiyakan oleh Yoyok, lelaki yang piawai memainkan kendang. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan suara dari gamelan, rebab atau bonang.

Kesulitan serupa juga dialami Feryna yang jadi penyanyi. Ia sendiri memang suka menyanyi, pernah tampil di tv lokal atau beberapa acara di Jakarta, Yogyakarta, Magelang dan lainnya.

Membawakan lagu sambil bermain siter bukan perkara mudah. Apalagi lagu Jawa yang dibawakan, baik yang tradisional maupun modern punya cengkok tersendiri.

"Ini tantangan tersendiri bagi saya, meski memang sulit sekali menyanyi sambil bermain sitar. Tantangan yang menarik, menghafalkan puluhan langgam jawa, lagu pop, rock dan campursari juga merupakan keasyikan tersendiri,"tutur penggemar Celine Dion dan Didi Kempot itu.

 

Menjadi penyanyi di SS juga memicu Feryna, perempuan lulusan UGM itu untuk menambah kualitas vokalnya. Berbagai lagu yang dipelajarinya membutuhkan ekplorasi kemampuan yang dirasa masih kurang.

Sedangkan bagi Lukita, saat semakin dalam mencintai siter seperti menemukan oase tersendiri dari nada-nada yang dihasilkan lewat dawai-dawainya. Ditambah lagi dengan keguyuban yang ada dalam SS and Friends.

"Saya bersama Feryna dan Krizma banyak belajar dari siter, makin terasah kemampuan dengan hadirnya mas Ari Tejo, Yoyok dan Aam yang secara langsung dan tidak langsung berbagi pengalaman. Menikmati dan terus belajar siter adalah hal yang menakjubkan,'komentar Lukita.

Di tengah proses meningkatkan kemampuan, di sela kesibukan berlatih dan tawaran untuk manggung, termasuk setiap hari Rabu tampil di Kafe Cengkir, Sleman, SS tak melupakan kodratnya sebagai perempuan dan ibu.

Bersiter bagi Feryna, Krizma dan Lukita pada hakekatnya bagai memintal helai kehidupan, yang akan diberikan kepada anak-anak mereka. ***

0

Panggung Itu



kau ikut merayakan sastra

saat malam terus menggeliat

udara pengap asap rokok

dan kepulan kata-kata 


anakku, apa yang kau lihat

adalah perjalanan lelaki

yang mencoba menulis puisi

meski tahu akan berakhir sepi


tapi itu adalah sejarah

yang menentukan arah langkah

dari gurat kesedihan

dan sejenak kegembiaraan


saat kau beranjak dewasa

ada namamu di situ

dibawa oleh judul-judul puisi

yang akan kau mengerti


biarkan orang berkata sinis

lembar kehidupan memang tak manis

suatu saat akan terkabar

bendera itu tetap berkibar


ingatlah panggung itu


jogja, 2024

0

Barangkali


mencintaimu bukanlah sesal
meski menanggung air mata yang terjaga rapat
atau koyakan duka yang kuterima dengan ikhlas
semua dapat kau baca biar selintas

pernah ada masa kita bertengkar
tak ada tawa atau kelakar
marah kita kadang membakar
segala pengap keluar dan menguap

mencaintaimu bukanlah kemurungan
meski dunia kadang curang
dengan kelicikan manusia melebihi binatang
namun harapan tak pernah hilang 

barangkali kita butuh waktu
merenungkan segala peristiwa
atau merapal segala jejak
lalu menemukan banyak kisah telah tercipta

kita relakan apa yang tertinggal
seperti halnya kepahitan yang perlahan tanggal
rengkuhlah terang yang akan kita ciptakan
meski pelan tapi kita tak perlu ragukan

Jogja, 2024