Sunday, August 18, 2024

0

Menebar Kabar Baik dari Sebuah Kafe


Teras Kabar Baik Eatry (Foto : Dok. Ison)


Orang-orang berhenti bicara.
Dalam cafe tak ada suara.
Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.
Georgia.

Dengan mata terpejam
si Negro menegur sepi.
dengan sebuah tendangan jitu
tepat di perutnya.

(Penggalan puisi "Blues Untuk Bonnie" karya WS Rendra)

Apa yang ditawarkan sebuah kafe selain minuman, cemilan atau makanan?. Di sana pasti ada kisah yang diceritakan oleh seseorang, atau isu diperbincangkan dalam debat, canda atau kadang diam saja.

Kafe yang punya jam buka lebih panjang dari restoran memang menawarkan banyak hal. Kongkow, bergosip atau bisa juga jadi tempat pelarian untuk merenungkan kegundahan. Ia juga menawarkan kegembiraan lewat musik yang digelar.  

Apa yang terjadi di kafe pernah ditampilkan dengan begitu indah, sekaligus perih oleh WS Rendra, penyair ternama lewat puisi "Blues Untuk Bonnie". Keperihan yang dibawakan dalam lagu blues penyanyi kulit hitam di sebuah caf di Boston, Amerika Serikat. Keperihan akan nasib masyarakat kulit hitam yang dinomerduakan, terpuruk dalam kemiskinan. Puisi yang benar-benar menendang tepat di perut.

Namun tentu tak semua memberi kesedihan. Ada kegembiraan pastinya, bertemu teman lama atau merayakan sesuatu yang menggembirakan.

Seperti sebuah kafe yang mencoba menawarkan sesuatu yang lain : kabar baik. Menularkan hal-hal baik setelah seseorang meninggalkan kafe itu.. Berkabar baik bagi orang lain setelah ia menghabiskan pasta carbonara atau segelas segelas kopi Americano. Termasuk juga tentunya bermanfaat bagi lingkungan

Kabar baik itu bisa dari pertemuan dengan teman, kenalan baru atau saudara. Kabar yang diharapkan akan didapat dari sebuah kafe bernama Kabar Baik Eatery (KBE), yang berlokasi di Jl. Pamularsih No.152b, Ngabean Wetan, Sinduharjo, Sleman, Yogyakarta.

Terasa berbeda namanya. Nama yang terdiri dari 3 kata. Tak seperti lainnya yang umumnya satu atau dua kata saja.

"Semua ini berawal dari obrolan tentang nama kafe yang akan dibuka. Saat itu, saya dan suami, Ison Desi Satriyo ingin membangun kafe di tanah yang sudah lama belum digarap," tutur Fransiska Nuke dalam bincang menjelang senja minggu lalu di kafe KBE.

Saat itu, di tahun 2018, keduanya bertemu Gama Marhaendra yang penyuka seni. Gama yang mengusulkan nama Kabar Baik. "Dia sahabat kami, masih muda, meninggal mendadak karena serangan jantung," tambah Ison mengenang Gama yang sama-sama penggemar klub Liverpool.

"Kabar Baik" dianggap punya konsep kuat dan beraura positif. Sedangkan "Eatery" dipilih karena orang lebih cenderung untuk makan dan nongkrong.

Dari Bawah

Pasangan Nuke dan Ison yang menikah pada tahun 2001 melakoni bisnisnya dari bawah.. "Sesuatu yang terasa tidak prestige, lulusan UGM kok buka warung. Tapi kami tak peduli, passion Nuke memang di kuliner,"jelas Ison.

Warung bernama Cheers yang berlokasi di Selokan Mataram, Gejayan itu dibuka pada 2004, Promosi pun dilakukan hanya lewat sms (short message short) dan telepon ke teman-teman. Orang kadang datang hanya untuk ngopi saja. Kadang sepi dari sore  hingga malam, tambah Nuke.

Warung itu juga punya cerita lain. Meski disewa selama 10 tahun, tapi di tengah jalan mengalami kenaikan yang membuat mereka lalu pindah, dua blok dari lokasi semula. Sebuah ruangan bekas usaha cukur rambut, berukuran 2x3 m2. Warung itu sempat vakum, namun mereka tetap bergerak dengan nama Shine Cafe  sejak 2012 di tempat tukang cukur itu.  Sedangkan Cheers, setelah vakum selama 7 tahun, kembali dihidupkan pada 2019, saat ini menempati lahan di bilangan Seturan.

Kini melalui KBE Nuke berharap bisa memberi manfaat, memberi kabar baik bagi orang lain. Seperti yang ia alami pada 2007 saat mendapat kabar baik dirinya hamil setelah 6 tahun menanti. Kini ia punya putra yang sudah duduk di bangku SMP dan puteri yang kelasa 6  SD.

"Kabar baik kadang datang tiba-tiba, kadang tak bisa cepat karena perlu perjuangan dan kesabaran. Semua akan memetik hasil dari apa yang sudah kita tanam," kata Nuke yang berkacamata itu.

Di masa pagebluk yang belum jelas kapan akan berakhir kafe itu juga menjadi "rumah" bagi para siswa di sekitarnya yang keteteran belajar online karena berat membeli pulsa. Di KBE para pelajar itu bisa menikmati wifi gratis dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB.  

Langkah itu mendapat dukungan dari banyak pihak, seperti teman-teman kuliah Nuke dan Ison. Ada yang menawarkan beberapa laptop untuk dipakai para siswa. "Masih banyak yang punya kepedulian pada sesama, hanya kadang tak tahu bagaimana caranya,"tambahnya.

Berbincang tentang kabar baik saat sore (Foto : Dok.Ison)


Pasangan itu juga tidak merumahkan karyawannya meski pandemi sejak April lalu membuat kafe-kafe sepi pengunjung. Gaji dan THR tetap diberikan penuh. Ada juga yang pernah bekerja di rumah makan tapi diberhentikan akibat krisis yang ada lalu ditampung di KBE. Saat ini KBE yang berdiri di tanah seluas 600m2 itu beroperasi dari pukul 14.00 hingga 23.00 WIB. Nantinya saat situasi normal akan buka dari pagi.

Menu yang disajikan cukup bervariasi, sajian nusantara dan western, dengan harga yang terbilang tak mahal. Selain ada tempe mendoan atau pisang goreng juga bisa dinikmati pasta dan salad. Selain itu juga tersedia minuman yang segar, baik kopi dan non kopi.

Bagi para penggemar sepeda diberikan diskon sebesar 25%. Mereka yang butuh tempat berkumpul sambil nyore yg asik bisa memanfaatkan diskon itu. Syaratnya mudah, para bikers membawa sepedanya pada pukul 14.00 -- 18.00 WIB.

Maka seperti di sore itu, saat berbincang dengan Nuke dan Ison, ditemani Leo Napitupulu yang gitaris grup Es Nanas, mulai berdatangan para bikers. Mereka menikmati sore yang segera menepi, berbincang sambil menikmati teh dan kopi.

Saat malam menjemput, Kabar Baik Eatry yang tampak eksotik ditingkahi lampu-lampu, terus menggeliat. Menebarkan kabar baik, juga kebaikan bagi pengunjung dan lingkungannya. Sembari merealisasikan rencana ke depan untuk membuat kafe lebih nyaman dengan memperbanyak venue luar. Juga ada akustikan di hari tertentu.

Kabar baik yang memang dibutuhkan semua orang di tengah cobaan pandemi saat ini. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/5f327906d541df3e9b3cbe82/menebar-kabar-baik-dari-sebuah-kafe?page=all&page_images=2


Monday, August 12, 2024

0

Hukuman Match Fixing Lebih Ringan Ketimbang Lempar Flare

 

Keputusan Komdis PSSI terhadap PSS Sleman (Foto : Twitter)

Pengaturan hasil pertandingan alias match fixing jadi barang haram di dunia sepakbola. Tentu juga di cabang olahraga lainnya.

Perputaran uang dari pengaturan skor ini tidaklah sedikit. Para pelakunya tak peduli akan merugikan klub mana, asal ada duit mengalir untuk menyuap perangkat pertandingan atau wasit. Tidak peduli juga bagaimana para suporter mengorbankan waktu dan uang untuk mendukung tim kesayangannya, tanpa tahu sudah dicurangi untuk kalah.

Namun, nafsu untuk terus meraih tiga poin dan bertahan atau syukur-syukur bisa promosi, seperti membutakan jargon fair play di bendera yang dibawa anak-anak sebelum laga dimulai.

Kini klub-klub, terutama yang berkiprah di Liga 1 bisa dengan tenang melakukannya. Dendanya kecil, bahkan lebih kecil dari penyalaan flare di lapangan yang menyebabkan pertandingan terhenti.

Nah, daripada suporter mengamuk karena klub kesayangannya kalah, lebih baik manajemen klub melakukan match fixing. Belum lagi ada yang merusak fasilitas stadion, klub yang pasti mengganti kerugian. Dari segi biaya yang dikeluarkan jelas lebih ringan daripada flare.

Analog di atas tentu bukan saran yang baik bagi klub Liga 1. Itu sesat.

Apalagi Ketua Umum PSSI, Erick Thohir sudah mengeluarkan ancaman untuk tidak memberi ampun bagi para pelaku match fixing itu.  

"Saya pernah katakan, jangan main-main. PSSI sudah berkomitmen dengan Polri, kita selidiki, ada bukti yang kuat, maka langsung sikat, tidak pandang bulu," ujar Erick pada rilisnya, 21 Desember 2023.  

Erick yang juga Menteri BUMN kembali menegaskan dan memastikan akan memberikan sanksi tegas terhadap pelaku match fixing  dalam kompetisi liga sepak bola di Indonesia.

"Ada satu poin besar, saya tidak ada toleransi mengenai match fixing," ujar Erick saat membuka acara Workshop Aturan Baru Liga 1 Musim 2024-2025 seperti dalam tayangan video yang diunggah akun instagram pribadi: @erickthohir yang dipantau di Jakarta, Minggu, 14 Juli 2024.

Dalam acara sosialisasi aturan yang disampaikan perwakilan tim Komite Perwasitan PSSI Yoshimi Ogawa, Erick kembali menegaskan komitmen PSSI untuk melakukan transformasi liga sepak bola di tanah air.

 

Bicara Lain

Meski begitu kenyataan berbicara lain. Klub yang oficialnya, mulai dari direksi perusahaan hingga manajemen tim, yang sudah terbukti melakukan suap untuk pengaturan hasil pertandingan, hanya didenda murah meriah : pengurangan tiga poin dan denda uang sebesar Rp 150 Juta.

Klub itu, PSS Sleman yang mendapat dua sanksi tersebut dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI, karena terbukti melakukan match fixing pada musim kompetisi Liga 2 2018. Match fixing itu terjadi dalam laga antara PSS Sleman menghadapi Madura FC pada 6 November 2018

Saat itu klub berjulukan Super Elang Jawa itu berhasil menjadi juara, mendapat promosi ke Liga 1 2019 dan tetap bertahan hingga saat ini.

Sanksi itu dijatuhkan oleh Komdis lewat keputusannya tanggal 6 Agustus 2024. Di awal keputuannya, Komdis menyitir putusan PN Sleman tangal 25 April 2024 tentang tindak pidana suap kepada perangkat pertandingan yang bertugas pada laga antara PSS Sleman

Dalam keputusan yang ditandatangani oleh Ketua Komdis, Eko Hendro Prasetyo juga disebutkan bahwa perbuatan suap ke perangkat pertandingan itu bukan atas perintah Soekeno, yang disebut Komdis, saat itu menjadi Direktur Utama PSS Sleman.

Selain itu Komdis PSSI juga menyatakan bahwa penyuapan itu dilakukan oleh Vigit Waluyo, disebut sebagai orang yang di luar struktur klub PSS Sleman, yang memerintahkan Antonius Rumadi (Direktur Operasional PT PSS), Dewanto Rahadmoyo Nugroho (Asisten Direktur Utama klub PSS) dan Kartiko Mustikaningtyas (Laison Officer klub).

PSS Sleman, yang oleh Satgas Antimafia Bola hanya disebut klub, berdasarkan hasil penyidikan mengaku sudah mengeluarkan total hingga Rp 1 miliar untuk melobi para wasit dalam beberapa pertandingan.

"Dari hasil penyidikan, ada bukti cukup sehingga ditetapkan enam tersangka. Pihak klub mengaku mengeluarkan total uang hingga Rp1 miliar untuk melobi para wasit dalam beberapa pertandingan," sambungnya.

Sangat Ringan

Keputusan itu segera menjadi sorotan publik. Sangat ringannya denda yang dijatuhkan Komdis PSSI terhadap PSS Sleman membuat orang terperangah.

Pengamat sepakbola, yang juga founder Freedom Istitute, Budi Setiawan sejak awal sudah pesimis atas sikap lembek Komdis PSSI. Ia bahkan pesimis Komdis akan memberikan hukuman sepantasnya bagi pelaku match fixing.

"Sebenarnya saya sudah agak malas berbicara tentang status hukum PSS Sleman.  Komdis PSSI terkesan melindungi pihak tertentu dan tidak menunjukkan keseriusan terhadap kasus ini," kata Budi Setiawan.

Ia juga menilai Komdis PSSI tidak akan menghukum PSS Sleman dengan segala argumentasi. Kalau pun ada hukuman, hanya sebatas potong poin dan itu pun tidak signifikan. Tidak sampai 12 poin.

Kini, setelah keluarnya sanksi Komdis PSSI terhadap PSS Sleman, Budi Setiawan menilai hal itu bukan hanya berdampak buruk terhadap janji kampanye Ketua Umum PSSI Erick Thohir yang menginginkan sepakbola bersih dan penegakan disiplin, tetapi membunuh penegakan hukum sepakbola.

"Putusan Komdis PSSI ini sama saja mempermalukan Erick Thohir. Saya pikir agar komitmen Erick Thohir ini clear dan tidak dianggap lips service, ya jangan ragu mereformasi Komdis PSSI yang sudah jelas-jelas mempermainkan aturan," ujarnya. 

Sedangkan Koordinator Save Our Soccer (SOS),Akmal Marhali menilai itu sebuah keputusan yang aneh. Apalagi secara hukum kasus ini sudah de facto di lapangan. Sudah ada penangkapan terhadap lebih dari tujuh orang.

Menurut Akmal yang juga anggota Satgas Antimafia Sepakbola Independen,putusan Komdis itu menyalahi regulasi dan kode disiplin PSSI. Di Pasal 64 ayat 5 Kode Disiplin disebutkan, hukuman terhadap tim yang melakukan pengaturan skor secara sistematis adalah degradasi.

Lebih Rendah

Keheranan publik makin bertambah saat keputusan Komdis PSSI itu lebih dulu muncul di sosial media, bukannya di laman resmi PSSI. Seperti pada akun Instagram @pengamatsepakbola dan akun Twitter mantan CEO PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Viola Kurniawati.

Sorotan tajam terhadap Komdis PSSI tidaklah mengherankan. Hukuman sebesar Rp 150 juta bahkan lebih rendah dari denda yang diterima oleh klub karena suporternya melempar flare.

Sebut saja Bali United yang terkena denda sebesar Rp250 juta akibat suporter menyalakan suar atau flare dan petasan pada laga putaran pertama perebutan juara ketiga melawan Borneo FC di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Kabupaten Gianyar, Bali, 25 Mei 2024.

Fakta dan pertimbangan keputusan Komdis PSSI (Foto : Ist)


Denda lainnya akibat flare dikenakan kepada Persebaya Surabaya saat menjamu Persis Solo di Stadion Gelora Bung Tomo, 13 Desember 2023. Akibatnya, Persebaya didenda Rp 220 juta.

Kini, sorotan akan diarahkan kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir yang begitu menggebu-gebu berbicara soal klub yang melakukan match fixing. Mulai dari istilah “sikat sampai tuntas”, “hukuman seumur hidup”, “jangan main-main” hingga ancaman degradasi bagi klub.

Begitu juga dengan hukuman untuk wasit dan pemain yang akan dikenakan hukuman seumur hidup tidak bisa beraktivitas di sepakbola.

Sekali lagi, kenyataan di depan mata berbeda. Rumadi dan Dewanto misalnya, meski sudah divonis pengadilan dan menjalani hukuman penjara, tapi oleh Komdis belum mendapat sanksi.

Entah transformasi apa yang diinginkan PSSI saat organnya, Komdis sendiri menciderai keadilan dengan hukuman yang begitu ringan terhadap klub yang terbukti melakukan match fixing.

Maka, tak mengherankan jika nantinya klub akan memilih melakukan pengaturan skor yang lebih murah dibanding denda pelemparan flare.

Selain itu, publik juga bisa menilai pernyataan keras Erick Thohir hanyalah lips service semata untuk pencitraan politis. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/66ba3322ed64154e3e77f4d2/hukuman-match-fixing-lebih-ringan-ketimbang-lempar-flare

Saturday, August 10, 2024

0

Sungguh

Foto : Dok.Yo

sungguh sangat terlambat
mendengar berita tentangmu
aku hanya bisa menikmati perih
kita tak bisa lagi bercakap seperti dulu

kau katakan keadaan makin memburuk
aku rasakan kepedihan tak terucap
kau katakan beratnya menahan sakit
aku hanya bersedih dalam senyap

mendengarmu sudah pergi
tahulah aku deritamu sudah menepi
"keadaanku semakin memburuk"
tak kudengar lagi

kita saling menguatkan
saat terbelenggu cobaan
kita saling tertawa
saat tahu kekalahan itu bagian dari kemenangan

pergilah


sleman,  10 08 24

Friday, August 9, 2024

0

Tak Usah



tak usah bertanya tentang cinta
ia adalah kegembiraan
ia adalah kesedihan
dan kita dalam pelukannya

waktu bisa menggerus cinta
sapa menjadi langka
apalagi pelukan seperti dulu
segala sudut perlahan membeku

tak usah bercerita akan cinta
saat segala alasan terkata
tak peduli ada luka menganga
tak peduli segala seperti sia-sia

saat semua perlahan menjadi asing
kita hanya bisa berpaling
bertatap muka dari cermin
sebelum memandang senja yang muram

katakanlah ini hanya sementara
sambil kita mencoba menata
apa yang terserak apa yang terkuak
untuk membawa cinta kembali 

golgota,2014



Monday, August 5, 2024

0

Ritual



Bagi saya, yang menulis pun masih banyak lemahnya, menulis butuh suatu ritual tersendiri. Baik itu artikel, puisi dan buku.

Puisi misalnya. Dibutuhkan dorongan kuat, entah berupa debar kuat,rasa merinding, gelisah, sedih, kecewa atau marah.

Jika merasa mood sudah terkumpul, saya langsung menulis dengan kata-kata yang muncul begitu saja. 

Setelah itu dibaca lagi, kali ini bertindak sebagai pembaca. Melihat jalinan kata apakah terlihat logis, tidak mengada-ada, lebay atau dibuat seperti serius.

Pokoknya, puisi itu punya ciri kita sendiri. 

Setelah dirasa cukup pengamatan, pengeditan, simpan atau publikasikan.

Sering dikatakan, puisi itu jabang bayi yang dilahirkan oleh penyair. Pembaca akan menjadi orangtua asuhnya. Mereka akan memberikan penilaian.

Jika ada pendapat atau komentar yang kurang enak, telan saja itu sebagai salah satu asupan vitamin untuk menjadi lebih baik. Jangan dimasukkan ke hati, apalagi jadi kapok menulis lagi.

Penyair favorit saya, almarhum Rendra pernah berkata : Kalau kamu anggap yang kamu tulis itu puisi, ya puisi. Jangan dengarkan para kritikus.

Agt, 2024

Saturday, August 3, 2024

0

Kabar

Foto : Album King Crimson "Epitaph"


satu demi satu
seperti yang terdengar
telah pergi dalam kabar
pulang ke rumah yang baru

kabar itu berdatangan
membuat ingatan diasah
membuat kenangan dibelah
seperti hitungan

kapan lalu menjadi tanya
yang tak satupun bisa menjawab
yang tak ingin kapan itu segera tiba
karena kita enggan juga

kabar itu terdengar lagi
dalam senyap dalam bisik
mengetuk relung menggapai renung
nama kita segera dihitung

golgota, 2024

Thursday, August 1, 2024

0

"Epitaph" - King Crimson



The wall on which the prophets wrote
Is cracking at the seams
Upon the instruments of death
The sunlight brightly gleams

When every man is torn apartWith nightmares and with dreamsWill no one lay the laurel wreathWhen silence drowns the screams
Confusion will be my epitaphAs I crawl a cracked and broken pathIf we make it, we can all sit back and laughBut I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be crying
Between the iron gates of fateThe seeds of time were sownAnd watered by the deeds of thoseWho know and who are known
Knowledge is a deadly friendIf no one sets the rulesThe fate of all mankind, I seeIs in the hands of fools
The wall on which the prophets wroteIs cracking at the seamsUpon the instruments of deathThe sunlight brightly gleams
When every man is torn apartWith nightmares and with dreamsWill no one lay the laurel wreathWhen silence drowns the screams?
Confusion will be my epitaphAs I crawl a cracked and broken pathIf we make it, we can all sit back and laughBut I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be crying
CryingCrying
Yes, I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be cryingYes, I fear tomorrow I'll be cryingCrying

*Penulis lagu: Michael Giles, Greg Lake, Ian McDonald, Robert Fripp, dan Peter Sinfield
Album: In the Court of the Crimson King
Rilis: 10 Oktober 1969