Tuesday, December 17, 2024

0

Siomaykongyu Rasanya Nendang dan Gurihnya Mantap

Promo Siomaykongyu di Instagram (Foto : Secreenshot)

Bisnis kuliner di Indonesia diakui memiliki prospek yang baik. Apalagi saat pandemi Covid-19 melanda, bisnis itu jadi pilihan banyak orang. Ditambah moda transportasi online yang tak kalah pesat perkembangannya dan menjadi penunjang transaksi.

Prospek cerah, meski di tengah tantangan ekonomi yang fluktuatif, tak lepas dari makanan sebagai kebutuhan sehari-hari. Kreativitas dalam dunia kuliner pun terus berjalan untuk menarik hati konsumen.

Meski begitu, bergelut di bisnis kuliner belum menarik perhatian Wahyu Winarso yang pengusaha kompor di Surabaya.

Namun, di awal 2021 setelah pandemi itu mereda, Wahyu dan isterinya, Liani di waktu luangnya iseng-iseng mencoba resep kuno dari orangtuanya. Dimodifikasi sedikit, dengan beberapa kali percobaan, lalu diujicoba pada keluarganya. Ternyata responnya bagus, banyak yang suka.

Menu yang membuat keluarganya kesengsem itu adalah Siomay dan Gohyong, yang masing-masing mempunyai varian ayam-udang serta babi udang.

Ketika Siomay dan Gohyong itu dibawa oleh Wahyu saat bertemu teman-temannya dalam acara reuni, mereka menikmatinya dan mengatakan enak. Bahkan mengajukan pesanan untuk dibuatkan.

"Akhirnya ya buka PO karena banyaknya pesanan, baik dari keluarga maupun teman-teman, termasuk juga teman dari anak," ujar Wahyu yang bapak dari empat anak itu.

Maka dimulailah usaha rumahan itu dengan nama Siomaykongyu, singkatan dari Siomay yang dibuat oleh Engkong Wahyu.

Pemilihan siomay dan Gohyong merupakan langkah jitu. Karena memasak makanan yang biasa saja tak cukup karena sekarang semua orang bisa membuatnya. Butuh ide unik dan segar agar memiliki ciri khas, dan itu dimiliki oleh Siomaykongyu.

Menurut Wahyu yang lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, usaha perumahan memang mempunyai prospek bagus karena fleksibilitasnya dan potensi keuntungan yang lumayan besar.

Terlebih lagi, beberapa jenis usaha rumahan memiliki daya tahan tinggi terhadap perubahan zaman dan kebutuhan pasar, sehingga sering disebut sebagai usaha rumahan yang tidak ada matinya.

"Bisnis kuliner harus konsisten dalam pemilihan bahan baku, bumbu-bumbu yang dipakai serta cara masak yang benar dan ketepatan jadwal pengiriman,"  

"Kualitas bahan baku sangat mempengaruhi cita rasa dan kualitas produk akhir. Selain penting memilih penyuplai bahan baku yang handal, pastikan mempertahankan standar kualitas. Ini tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga membangun reputasi positif untuk bisnis kita."

"Selain itu, tidak boleh tutup telinga jika ada saran atau kritikan dari pelanggan. Ingat, pelanggan adalah raja, dan patut direnungkan masukan yang ada, karena itu bermuara pada kelangsungan bisnis kita sendiri."

Hal lain yang tak boleh dilupakan adalah melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Jangan karena merasa laris, banyak pesanan, lalu merasa besar kepala atau order itu dianggap sebagai hal menyebalkan.

Kita perlu memperhatikan apa yang diinginkan oleh pelanggan. Selain dengan mendengarkan saran atau kritikan, perlu juga mencermati kekurangan yang ada dalam melayani konsumen. Lebih baik memperbaiki terlebih dahulu sebelum mendapatkan kritikan.

Meskipun bukan hal yang dirasa signifikan, hal tersebut bisa membuat konsumen menilai bahwa bisnis kuliner kita cukup memerhatikan kebiasaan konsumen, dan kemungkinan dapat menyentuh hati para pelanggan tetap.

Selain itu, mengetahui adanya personalisasi dari layanan yang ditawarkan, bisa saja pelanggan setia bisnis kuliner Anda mendatangkan konsumen potensial lainnya, yang akan membantu mengembangkan bisnis kuliner  menjadi lebih kuat.

Terjun ke bisnis makanan, tambahnya, harus banyak belajar bersabar dan jangan memandang pelanggan dengan sebelah mata.

Tentang kiat bagaimana dengan pemasaran bagi industri rumahan, Wahyu melihat hal itu sebagai tantangan yang perlu dijawab dengan kejelian memanfaatkan era digital saat ini. Pemanfaatan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi operasional dan meningkatkan visibilitas bisnis.

Selain aktif di media sosial, perlu juga dipertimbangkan untuk mengimplementasikan sistem pemesanan online atau aplikasi seluler untuk memudahkan pelanggan.

Siomaykongyu sendiri dalam proses produksinya sangat ketat dalam pemilihan bahan dan pengolahannya. Semuanya ditangani sendiri, belum bisa digantikan oleh orang lain, mulai dari belanja bahan, bumbu-bumbu serta memasak dan  menggunakan proses manual. Hal ini untuk menjaga konsistensi mutu produk.


Bagian Tersulit

Perkara konsistensi ini, menurut Wahyu yang asal Jombang, Jawa Timur, sangatlah penting.

Bahkan bisa dikatakan itu merupakan bagian tersulit yang dilakukan para pebisnis kuliner. Seringkali ditemukan kalau banyak pebisnis yang berhenti di tengah jalan karena tak bisa konsisten soal rasa serta penampilan. Penting bagi pengusaha pemula untuk bisa terus konsisten terhadap produk yang dibuat.

"Saat baru mulai masih dalam skala kecil rasanya enak, tapi pas banyak pesanan jadi nggak konsisten padahal resepnya sama," tambahnya

Memang dengan tenaga yang ada produksi masih terbatas, namun hal ini tidak menjadi masalah karena pesanan yang ada berasal pelanggan lama yang sudah merasa cocok dengan produk Siomaykongyu. Dari mereka juga bertambah pelanggan baru dengan adanya promosi dari mulut ke mulut.

Tentang peralatan produksi, tak beda dengan dapur umumnya. Menggunakan cooper untuk menghaluskan daging, adanya panci kukus dan kompor merek CRN, produk PT. Solihin Jaya ( Butterfly).

Tentang menu favorit pelanggan, Wahyu menyebut Siomay bak yang bahan bakunya merupakan kombinasi daging segar, udang segar, tepung dan bumbu.

"Taste-nya lebih nendang, gurihnya mantap," ujarnya menirukan para pelanggan yang tak hanya di kota Surabaya tapi juga Malang, Jakarta, Bali dan Bandung.

Pengiriman di dalam kota Surabaya menggunakan kurir, sedangkan di luar kota memakai Paxel.

 Kesuksesan bisnis kuliner pada akhirnya bukan hanya tentang menyajikan hidangan lezat, tetapi juga tentang manajemen yang cerdas dan kreativitas dalam membangun hubungan dengan pelanggan. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/67602fe3ed64155ba2111a94/siomaykongyu-rasanya-nendang-dan-gurihnya-mantap

Friday, December 13, 2024

0

Gajah-gajah di Aceh Berterima Kasih Atas 20.000 Hektar Lahan Milik Prabowo Subianto

Habitat alami gajah terus berkurang akibat alih fungsi hutan. Foto: Forum Konservasi Gajah Indonesia
Gajah-gajah di Aceh, jika bisa berbicara, akan menyampaikan terima kasih kepada Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, yang menghibahkan 20.000 hektar tanahnya untuk konservasi gajah.

Tanah itu miliknya pribadi, dihibahkan setelah World Wide Fund for Nature (WWF) meminta Presiden Prabowo untuk memberi tempat bagi gajah. Permintaan itu disampaikan oleh Raja Inggris, Charles III saat bertemu dengan Raja Charles II dalam rangkaian kunjungan kenegaraan ke Inggris November 2024 lalu.

Prabowo saat itu melakukan perjalanan kenegaraan pertamanya sebagai Presiden RI. Negara yang dikunjungi Prabowo termasuk China, Amerika Serikat (AS), Peru, Brasil, Inggris, dan Uni Emirat Arab (UAE).

Di Inggris, Prabowo berhasil membawa 'oleh-oleh' investasi senilai US$ 8,5 miliar atau sekitar Rp 135,15 triliun.

"Pak Prabowo ketika bertemu dengan Raja Inggris, yang ada juga WWF di sana dan WWF, meminta kepada Pak Prabowo untuk ada wilayah konservasi gajah. Waktu itu diminta 10.000 hektare di Aceh untuk wilayah konservasi gajah," kata Hasan, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, 3 Desember 2024.

“Pak Prabowo bilang tidak 10.000 (hektar). Pak Prabowo kemudian menyumbangkan lahan beliau sebesar 20.000 hektar untuk konservasi gajah yang nanti akan dikelola oleh WWF,” jelasnya.

Rencana ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo dalam mendukung upaya pelestarian satwa liar, khususnya gajah, yang saat ini menghadapi ancaman kehilangan habitat. Lahan yang disumbangkan ini rencananya akan dikelola oleh WWF untuk menjaga kelestarian gajah di Aceh.

Menyikapi hal itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menilai perlunya klarifikasi lahan yang dimaksud oleh Presiden Prabowo. Apakah lahan pribadi atau lahan konsesi yang berada di PT. Tusam Hutani Lestari (PT THL) yang memiliki Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK).

Sepengetahuan WALHI Aceh, Prabowo Subianto memiliki IUPHHK berdasarkan SK.556/KptsII/1997 dengan luas areal kerja 97.300 hektare dan izin tersebut akan berakhir pada tanggal 14 Mei 2035. Lahan itu tersebar di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Bireuen dan Aceh Utara.  Sebagian besar lahan itu banyak terbengkalai dan ada juga yang sudah digarap oleh warga setempat.

Meski begitu, WALHI Aceh menilai langkah Presiden Prabowo itu dapat memperkuat upaya pelestarian 4 satwa kunci yang semakin terancam akibat degradasi hutan di Serambi Mekkah.

“Kami menunggu janji tersebut, ini bisa menjadi momentum dan contoh bagi pemegang izin lainnya yang area konsesinya berada di koridor satwa,” kata Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, 4 Desember 2024.

Populasi Kritis

 Indonesia merupakan rumah bagi dua spesies gajah, yaitu Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang merupakan subspesies gajah Asia, dan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) yang juga subspesies gajah Asia namun dengan populasi yang sangat terbatas.

Kedua spesies ini menghadapi ancaman serius yang memerlukan tindakan konservasi segera untuk mencegah kepunahan mereka. 

Gajah Sumatera adalah spesies yang sangat terancam punah. Menurut data dari WWF dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), populasi Gajah Sumatera saat ini diperkirakan berada pada angka 1.300-1.500 ekor. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dimana populasi gajah di Sumatra mencapai ribuan ekor.

Sedangkan, Gajah Kalimantan memiliki populasi yang jauh lebih kecil, dengan perkiraan hanya sekitar 80-100 ekor yang tersisa di alam liar. Gajah Kalimantan ini tersebar di wilayah utara Kalimantan, terutama di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Badan Konservasi Dunia sejak 2012 menyatakan Gajah Sumatera  (Elephas maximus sumatranus) termasuk populasi kritis (critically endangered).

 Persoalan terbesar bagi gajah Sumatera adalah hilangnya kawasan habitat mereka. Hutan tropis yang secara masif terus berubah hilang menjadi hutan industri, perkebunan masyarakat atau permukiman yang dimulai sejak adanya progam transmigrasi ke Sumatera pada tahun 1970-an yang hingga kini terus terjadi.

 Bahkan, lebih buruk lagi adalah jalur yang selalu dilintasi gajah telah diubah menjadi perkebunan. Tidak heran jika terjadi kasus gajah merusak kebun masyarakat. 

 Di Aceh misalnya, dalam 10 tahun terakhir merupakan salah satu provinsi dengan populasi gajah Sumatra terbesar di Indonesia dengan tingkat konfliknya masih tinggi. Terutama di Kabupaten Aceh Tengah, Bener dan Bireuen kerap terjadi konflik satwa gajah dengan manusia.

 Dalam konvensi tentang Perdagangan Internasional Satwa dan Tumbuhan (CITES), gajah sumatera dan gajah kalimantan dimasukkan dalam Appendix I di Indonesia sejak tahun 1990. Artinya, gajah sumatera dan gajah kalimantan tidak boleh diperjualbelikan sebagai hewan utuh ataupun bagian tubuh satwa tersebut.

Namun perburuan terhadap gajah tetap terjadi. Masih ditemukan jejak bekas pembunuhan gajah untuk diambil gadingnya, yang di pasar perdagangan gelap internasional dihargai sangat mahal.

 Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) mencatat, seperti dikutip dari kompas.id, pada tahun 2020 terjadi 19 kematian gajah liar di lokasi Jambi, Aceh, dan Riau. Jumlah ini meningkat dari 9 kasus kematian pada tahun 2019.

Terhitung dalam sepuluh tahun terahir (2011–2020) kasus kematian gajah mencapai 189 ekor, mayoritas mati karena jerat listrik, perburuan, racun, dan sling baja, hanya tiga yang mati alami.

Dahsyat 

Dalam kacamata Narliswandi Piliang, blogger ternama, apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menghibahkan 20.000 hektar lahan milik pribadinya di Aceh adalah langkah yang dahsyat. 

Sebuah laku dahsyat, Presiden @prabowo menghibahkan lahan miliknya 20 ribu hektar bagi konservasi Gajah,” ujar Iwan, panggilan akrabnya dalam akun Tiktok-nya @iwanpiliangofficial

Mantan wartawan itu mengatakan, bagi korporasi Sawit, misalnya mereka bahkan menanam di lahan bukan HGU-nya kini terbukti lebih 3 juta hektar, mereka terindikasi pelaku tambun penggelap pajak pola Transfer Pricing,

 

Presiden Prabowo justeru mehibahkan lahan bagi konservasi Gajah. Bagi saya ini terobosan dahsyat memuliakan manusia, alam dan seisinya.

Gajah-gajah berterima kasih kepada Prabowo Subianto karena 20.000 hektar lahannya diserahkan untuk konservasi gajah. 

Lahan seluas 20.000 hektar itu, tambah Iwan Piliang, jika dikonversi pendapatan minimum dari penjualan sawit saja setahun akan menghasilkan Rp 2 triliun. Belum lagi dari CPO dan lainnya.

“ Apa yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto seharusnya diikuti oleh para konglomerat lainnya yang memiliki lahan sawit di Sumatra atau Kalimantan. Setelah mengeruk keuntungan, sudah semestinya membalas budi dengan memberikan lahan bagi konservasi gajah,” tegas Iwan Piliang. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/675bcd10ed64152e9872b5f2/gajah-gajah-di-aceh-berterima-kasih-atas-20-000-hektar-lahan-milik-prabowo-subianto

 

 

 

 

Wednesday, December 4, 2024

0

Genesis - Snowbound (lyrics)




Tuesday, December 3, 2024

0

Genesis - Afterglow (Live in Rome, 2007)