Sunday, July 28, 2024

0

Gatra yang Akhirnya Pamit

Foto : Ist

Ditutupnya Gatra, majalah yang sering disebut sebagai media pembanding untuk Tempo, tetap menyisakan kesedihan. Kenyataan yang pahit, tergerus kemajuan digital dan tertatihnya finansial.

Dalam berita dengan tajuk "Geliat Gairah Puisi Indie" ditampilkan sampul buku saya "Di Lengkung Alis Matamu", yang membuat saya makin bersemangat terus belajar dan memperbaiki coretan puisi.

Kedua, saya sering ke kantor Gatra yang di belakang TMP Kalibata, bertemu sahabat saya, Putut Tri Husodo yang saat jadi Pemred. Kangen dan berdoa untuk Putut semoga tetap kuat dan sehat.

Seperti disampaikan Direktur Utama Gatra, Hendri Firzani dalam suratnya, perusahaan itu mengalami kerugian terus menerus dalam beberapa tahun terakhir.

Foto : Dok.Pribadi

Kesulitan tersebut diperparah dengan munculnya wabah Covid-19 yang membuat tergerusnya pendapatan Gatra Media Group sehingga tidak mampu melakukan program pengembangan sama sekali. 

Namun, kesulitan-kesulitan di atas membuat Gatra harus menutup berbagai situsnya, mulai dari Gatra.com, Majalah Gatra Jateng, Gatrapedia.com, dan kanal Gatra TV, serta semua hal yang terkait dengan Gatra.

Gatra yang terbit perdana pada 19 November 1994 memiliki rubrik yang terdiri dari Laporan Utama, Laporan Khusus, Ekonomi, Nasional, Internasional, Hukum & Kriminalitas, Olahraga, Ilmu dan Teknologi, Apa dan Siapa, Musik dan Hiburan. ***

 


Saturday, July 20, 2024

0

Beriak Saja

 


bagaimana memandangmu
saat kadang ada ragu menghampiri
menghidangkan hening bisu
lalu berpaling menikam galau

percaya ternyata tak cukup terucap
meski melewati beribu derap
tetap semuanya terlihat beriak saja
tak menjadi ucap meski lirih

bagaimana kau memandangku
saat kata romantis kau ucap
seiring kenyataan yang gagap
membuatku kembali terantuk ragu

seperti apa perjalanan nanti
pertanyaan yang sebenarnya tak perlu
untuk terucap meski sekedar di hati
jadi tanya atau koma yang sepi

seperti apa semua ini?

golgota, 2024


Sunday, July 14, 2024

0

Kembali

sebenarnya sederhana saja
ingin yang mengendap
lalu berulang terus berkejap
serupa potongan peristiwa

ingin melihatmu kembali tersenyum
melihat lelakimu tak menyerah
tak ingkar atas segala
lalu memelukmu dalam segala maklum

sebenarnya sederhana saja
melihat lagi kerlip senja
di mata indahmu
di senyuman yang melelehkan

menanti kau berucap
bahwa badai juga punya batas
untuk luruh menjadi kata-kata
dan senyummu kembali ada

golgota, Juli 24

Saturday, July 13, 2024

0

Deretan Harapan Bagi Penulis Muslimah

Negara-negara dalam rumpun Nusantara perlu saling meningkatkan kerjasama dalam penyebaran karya penulis wanita dengan memperluas potensi penerbitan, apresiasi karya, pertukaran penulis dan lainnya.

Penyebaran karya para penulis wanita juga bisa dilakukan dengan penerbitan karya bersama dalam bentuk dwi bahasa, serta menyediakan dana bersama untuk peningkatan penulisan kepengarangan wanita.

Johannes Sugianto saat membacakan puisinya (Foto : Dok.Yo)



Selain itu, karya sastra maya atau cyber sebagai genre baru perlu diberi perhatian oleh semua pihak, agar bisa turut diterima dalam artus sastra Nusantara.

Demikian sebagian dari 9 rumusan “Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara” yang berlangsung selama tiga hari, 31 Maret – 2 April 2009 di gedung Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP) Kuala Lumpur. Rumusan itu dibacakan oleh Dato’ Dr. Anwar Ridhwan dari Persatuan Kesusasteran Bandingan Malaysia (PKBM) dalam acara penutupan seminar yang diikuti oleh para sastrawan dan ahli dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam, Singapore dan Thailand.

Seminar ini, menurut Dato’ Kemala sebagai Ketua Panitia, diselenggarakan oleh PKBM,  DBP dan Permodalan Nasional Berhad (PNB) bekerjasama dengan Istitut Terjemahan Negara Malaysia, Jabatan Warisan Negara, Kementerian Perpaduan, Kebudayaan, Kesenian dan Warisan, Masjid Abdul Rahman bin Auf dan eSastera.com.

Para sastrawan dari Indonesia yang diundang untuk membawakan makalah dan membaca puisi adalah Hudan Hidayat, Abidah El Khalieqy, Johanes Sugianto dan Kirana Kejora, serta sosiolog Silfia Hanani dan anthropolog Emmy Marthala (keduanya juga mahasiswa di Malaysia).

Kehadiran para sastrawan Indonesia ini cukup menarik perhatian para sastrawan dan pengamat sastra Malaysia, yang tampak dalam tanya jawab dalam setiap diskusi. Kedekatan budaya dan bahasa antara kedua Negara ini menjadi faktor yang mengakrabkan kedua pihak dalam berbincang seputar sastra. Sastrawan Negara Malaysia yang tersohor, Datuk (Dr) A. Samad Said dalam ceramahnya juga menyampaikan rasa senang dengan hadirnya wajah-wajah baru sastrawan Indonesia. 

Tema dan Bengkel

Meskipun bertajuk “Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara”, dalam seminar ini juga terdapat sesi yang tak semata membahas topik itu, semisal Bengkel Puisi seperti diberikan oleh Abidah El Khalieqy, Dr.Zurinah Hassan dan Nisah Haji Haron (keduanya dari Malaysia),  Bengkel Penulisan Skenario Film oleh Kirana Kejora dan pembahasan karya novel seperti disajikan oleh DR.Norhayati Abdul Rahman  dan Azizi Haji Abdullah Ahkarim.

Pembahasan karya puisi juga ditampilkan, seperti oleh Arbak Othman  yang membahas aspek pengucapan kognitif dan intelektual dalam antologi puisi “Syurga Kesembilan” karya Dato’Kemala, Hajah Samsina Hj.Abd.Rahman terhadap karya penyair Sabah Ony Latifah Osman, Sahara Jais dan Rosnah Radin, serta Siti Aisah Murad yang menyoroti ciri-ciri sastra Islam dalam Dua Dimensi Khadijah Hashim.

Perkembangan sastra cyber yang makin marak di Indonesia juga masuk dalam kajian makalah beberapa pembicara seperti dari Asmi Rahman dari Universiti Utara Maysia, Hasimah Harun dan Prof.Dr.Ir.Wan Abu Bakar yang keduanya merupakan pendiri eSastra.com.

“Wajah Kepengarangan Muslimah Nusantara” yang menjadi tema utama seminar ini lebih tampak tampil dalam makalah Fatimah Busu (Malaysia), Rasiah Halil (Singapura), Zurinah Hassan (Malaysia), Aminah Yasalam (Thailand), Abidah El Khalieqy dan Johannes Sugianto.  Meski dengan berbagai sudut pandang yang berbeda, namun benang merah atas wajah penulis, baik prosa maupun puisi, terentang dari makalah yang mereka sajikan.

Sayangnya waktu yang begitu sempit bagi setiap pembicara membuat beberapa tema menarik, yang menyajikan wajah penulis muslimah di masing-masing Negara dengan berbagai persoalannya, tidak terangkat secara maksimal. Padahal melalui tema seminar yang menggelitik itu diharapkan adanya peta sastra akan wajah para penulis muslimah Nusantara yang tersebar di lima Negara.

Seperti sajian makalah penyair Singapura, Rasiah Halil yang menyajikan data  tentang para penulis muslimah Singapura sebelum dan setelah tahun 1972, dengan berbagai tema yang diusung para penulis tersebut. “Tema-tema baru yang disentuh para penulis Singapura seperti aids, lesbian dan feminisme merupakan perubahan pandangan yang menarik terhadap sastra Islam. Namun apapun tema itu, tetap harus diperhatikan seperti apa teknik penulisannya yang tidak boleh keluar dari nilai-nilai Islam”, ujar Rasiah Halil.

Pembicara lainnya, Aminah Yasalam dari Thailand memaparkan penelitiannya tentang karya penyair wanita di Patani, Thailand Selatan yang kurang banyak diketahui masyarakat sastra. Sajak-sajak Melayu Patani dalam makalah bertajuk Suara Hati Penyajak Wanita Muslimah Dalam Sajak-Sajak Melayu Patani itu merujuk pada karya orang Melayu yang berada di empat wilayah selatan Thailand yaitu Patani, Yala,Setul, Narathiwat dan sebagian Songora.

“Tema yang masih menjadi pilihan para penyair muslimah Melayu Patani adalah nasionalisme dan keagamaan, sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Thailand. Di tengah situasi yang kurang kondusif, mereka tetap bersajak dalam berbagai lomba penulisan puisi dan deklamasi,” kata Aminah Yasalam.

Tidak Mudah

Hal lain yang menarik dari makalah yang disajikan adalah masih kaburnya sebutan Penyair Muslimah, seperti dari Abidah El Khalieqy dan Johannes Sugianto yang kebetulan keduanya berasal dari Indonesia. Abidah, penyair yang novelis (salah satu karyanya telah difilmkan yaitu “Perempuan Berkalung Sorban”) menyebutkan, di tengah percakapan tentang puisi Islami, puisi religius Islam atau puisi bernafaskan Islam, eksistensi Penyair Muslimah nyaris tidak pernah di diwacanakan.

Sebutan itu sendiri tidaklah popular, dan biasanya hanya ditempelkan secara formal kepada perempuan penyair yang beragama Islam. Maka, jika Cuma formalitas itu yang digunakan untuk menunjuk keberadaannya, semua perempuan yang beragama Islam dan menulis puisi serta mempublikasikannya lewat media massa, 99% perempuan Indonesia yang telah melahirkan karya puisi dapat dinisbahkan menjadi Muslimah Penyair.

Sementara itu, Johannes Sugianto yang juga Ketua PaSar MaLam (Paguyuban Sastra Rabu Malam) dalam makalahnya “Penyair Muslimah Dalam Nilai Islam dan Universal” mengatakan, menengok nilai Islam dalam puisi penyair Indonesia, khususnya penyair Muslimah merupakan hal yang menarik dan menantang. Tapi ternyata hal ini tidak mudah sebab di Indonesia lebih mudah menemukan penyair laki-laki ketimbang penyair perempuan (dengan latar belakang agama apa pun). Selain itu, penerapan nilai Islam dalam puisi penyair Muslimah Indonesia tak selalu formal, tapi sering muncul secara informal atau universal.       

Hal lain yang tak boleh dilupakan, pelabelan ‘Puisi Islami’ tidaklah bisa begitu saja diberikan kepada karya seorang penyair, karena mempunyai konsekuensi yang bermata dua. Pada satu sisi, secara positif, pelabelan itu menjadi pengikat emosi antar komunitas Islam, karena mampu memberi penanda identitas yang jelas bagi penulis. Selain itu, penulisan puisi bisa juga dipandang sebagai alat dakwah yang cukup urgen bagi pencerahan umat. Pendapat terakhir ini juga bisa diperdebatkan karena daya siar atau jangkauan puisi di Indonesia tidaklah seluas novel yang belakangan ini marak dengan pelabelan sebagai Sastra Islami.

Sisi lain yang bisa menjadi sesuatu yang negatif, dengan pelabelan sebagai penyair Islam, adalah adanya kesan bahwa karya puisi yang tidak berstempel “sastra Islami” bukanlah sastra bernapaskan Islam. Padahal lewat karyanya itu si penyair sudah berjuang mengangkat isyu kemanusiaan, keadilan, penindasan, kemiskinan dan lainnya, yang semuanya merupakan elemen-elemen agama yang substantif.  Implikasi yang ditimbulkannya pun bisa serius karena memunculkan klaim yang menjurus pada dikotomi : kami yang Islami, kalian tidak!

“Terlepas dari berbagai pendapat itu, di masa mendatang diharapkan dunia sastra (Indonesia) bisa bekerja lebih maksimal bagaimana mengelola isi sastra, melakukan berbagai ekpsresimen peristiwa, memberi terobosan pada ide-ide, daripada sibuk menempelkan berbagai brosur atau sebutan sastra Islami,” ujar Johannes Sugianto yang dalam makalahnya itu menampilkan puisi tiga penyair muslimah Indonesia yaitu Rukmi Wisnu Wardhani, Fatin Hamama dan Evi Idawati.

Sedangkan penulis Fatimah Busu yang cukup terkenal di Malaysia, dalam makalahnya mengatakan bahwa hingga kini belum banyak lagi dijumpai karya kreatif dari penulis muslimah nusantara yang secara khusus mencerminkan keIslaman.

Terjadinya kelangkaan karya seperti itu tak lepas dari kecenderungan karya, terutama novel, yang berorientasi pada aspek hiburan. Hal ini berbeda dengan para penulis pada masa Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Asas 50 seperti dalam karya penulis Indonesia seperti Marah Rusli dengan Siti Nurbaya, Armin Pane (Belenggu), Abdoel Moeis (Salah Asuhan) atau penulis Malaysia seperti Ahmad Kotot (Hikayat Percintaan Kasih Kemudaan), Ahmad Rashid (Iakah Salmah) dan Mohd.Yusuf Ahmad (Mencari Isteri).

“Kondisi ini membuat saya sulit menjumpai kreatif yang mempunyai “wajah kepengarangan muslimah” terutama di Malaysia ini”, ujar Fatima Bussu yang terkenal dengan keberaniannya lewat novel “Salam Maria” yang memikat dan menimbulkan kontroversi. 

Cinta

Selain hasil seminar yang terangkum dalam 9 rumusan, hal lain yang menjadi oleh-oleh bagi sastrawan Indonesia adalah besarnya harapan Dato’ Kemala, penyair Malaysia yang meraih SEA Write Award 1986, akan eratnya jalinan kerjasama antara sastra kedua Negara. “Saya hadir di Sastra Reboan yang diselengarakan oleh PaSar MaLam pada Januari 2009 lalu tak lain dengan harapan sederhana saja yaitu mempersempit jurang sastra Malaysia dan Indonesia”, tegasnya ketika memberikan pidato dalam penutupan seminar, Kamis malam.

Jika sastrawan senior dan wajah-wajah baru di Indonesia bahu-membahu, tambahnya, serta sastrawan Malaysia karya bisa dijumpai dengan mudah di toko-toko buku di Indonesia atau diundang untuk dating, maka diharapkan bisa menghapus tudingan tentang Malaysia sebagai pencuri lagu-lagu Indonesia.

Kami ingin para sastrawan Indonesia memahami bahwa sastrawan Malaysia cinta Indonesia, tegas Dato’ Kemala yang mendapat sambutan hangat dari para peserta seminar. (yo)

Sumber : https://travel.kompas.com/read/2009/04/05/01270492/deretan.harapan.bagi.penulis.muslimah?page=all


0

Jangan Menasihati


Saat belajar berpuisi bersama komunitas Bunga Matahari (BuMa), ada pengalaman menarik yang menjadi salah satu langkah menjadi penyair. Mungkin bagi orang lain biasa saja. 

Saya lupa waktunya yang sebenarnya, mencoba mencari di mbah Google belum ketemu juga. Tapi itu di awal tahun 2000. Perkiraan saya itu 2006. BuMa saat itu meminta puisi anggotanya untuk dipilih dan dibaca oleh Sitor Situmorang. Saya mengirimkan beberapa puisi.

Dia adalah legenda. Salah satu sajak paling terkenal karya Sitor Situmorang adalah "Malam Lebaran" yang terdapat dalam buku Dalam Sajak (1955). Penyebab ia bisa terkenal tak tunggal, tapi yang paling sering dibicarakan lantaran sajak tersebut hanya terdiri dari empat kata saja.

Salah satu puisi saya terpilih untuk dibaca Sitor. Ketika itu, TS Pinang, penyair asal Jogja menjadi salah satu yang menyeleksi mengatakan : "Sitor berkomentar : dalam menulis puisi janganlah mencoba menasihati.". Komentar itu diberikan Sitor atas puisi saya "Empat Puluh Empat".

Kalimat itu selalu saya ingat hingga kini. Kalimat seorang maestro yang sangat berarti.

Saya menangkap komentar Sitor itu sebagai pengingat, pedoman bahwa biarlah larik dalam puisi berbicara sendiri, tak perlu diarahkan untuk menjadi petuah atau minta simpati. Jika pembaca merasakan keperihan biarlah itu dinikmatinya. Jika menangkap ruh puisi tentang kegundahan, biarlah itu dikunyahnya.

Lalu keesokan harinya saya hadir dalam acara BuMa bersama Sitor di @library di gedung Kemendikbud, Senayan. 

Sebelum acara, saya diminta mendampingi Sitor untuk makan siang. Sitor bersama istri terakhirnya, Barbara Brouwer. Ada rasa grogi, dan tak banyak yang dibicarakan. Namun sempat terlontar beberapa pertanyaan seputar berpuisi.

Nasihat dan makan siang bersama Sitor jadi kenangan luar biasa. ***

0

Keroncong Kebayoran

Cerpen Kurniawan Junaedhi

Kurniawan Junaedhi (Foto : Istimewa)


(Untuk Anny Djati W, Ariana Pegg & Yo Sugianto)

Aku ditinggal oleh perempuan yang suka membaca Sartre dan mendengarkan lagu The Virgin itu. Hatiku somplak. Dunia hancur seperti kaca cermin yang dibanting. Aku patah hati seperti anak kemarin sore. Aku masuk kafe. Dugem. Hidup jadi memble. Alam semesta tertawa. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Aku nyalakan televisi. Aku lihat seorang presiden dilempar sepatu dan tubuh orang yang terjun dari apartemen terbujur di tanah berdarah-darah. Kulihat juga para penyiar tolol yang suka memotong-motong kata dan mereka-reka berita. Lalu kudengar Indonesia Raya dan suara bendera disobek. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Aku terbang ke Mal di Kebayoran. Bersama Anny, Yo dan Ariana Pegg minum kopi di Radja Ketjil. Selama ngobrol berkali-kali kami minta asbak diganti. Dan di seberang sana, pesawat televisi menyiarkan gambar presiden sedang marah, penyiar televisi yang suka memotong kata, dan suara bendera disobek. Seperti cangkang kepiting, aku ingin menggigit lehernya.

Sekarang aku ingat masalahku sendiri.

Aku ditinggal oleh perempuan yang suka membaca Sartre dan mendengarkan lagu The Virgin itu. Hatiku somplak. Dunia hancur seperti kaca cermin yang dibanting. Aku patah hati seperti anak kemarin sore. Aku masuk kafe. Dugem. Hidup jadi memble. Alam semesta tertawa. Maka aku buka mesin fotokopi. Kuletakkan lembaran tubuh perempuan itu di atasnya. Dan di bagian yang lain, mesin fotokopi itu mengeluarkan tubuh yang lain. Seperti cangkang kepiting, aku ingin membelai lehernya.

14 Desember 2009

Sumber: Perempuan dalam Secangkir Kopi (2010)

Kurniawan Junaedhie lahir pada tanggal 24 November 1956 di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia


0

Usia



usia seperti senja
saat malam menyeretnya
punah merahnya
bulan menabur sinar
pada manusia

Bagai busur panah
usia melaju
tak bisa terhadang
hanya dalam jiwa telanjang

semua dapat terbayang
perjalanan tertatih
tawa pedih
senyum letih

lb, sept 2006

Thursday, July 11, 2024

0

Ketika Tak Ada Hadiah Ulang Tahun Untuk Seorang Isteri

 

"Waktu yang Terhenti" dinyanyikan Feryna (Foto : Youtube)

Tuesday, July 9, 2024

0

Glenn Fredly : Sastra dan Musik Mampu Beri Aura Perubahan

Glen Fredly di panggung Sastra Reboan (Foto : Yo)

Sastra dan musik mampu memberikan aura perubahan, tak hanya pada suasana hati tapi juga warna pada neo nasionalisme anak muda. 

Kalimat itu disampaikan Glenn Fredly 11 tahun lalu, tepatnya 9 Oktober 2009 saat ia tampil di Sastra Reboan, panggung sastra bulanan di Wapres, Bulungan, Jakarta Selatan.

Saat itu ia tampil dua lagu, salah satunya "Kesaksian" karya WS Rendra yang jadi salah satu lagu andalan Kantata Takwa.  “Hari-hari ini saya percaya sekali bahwa gerakan nasionalisme baru akan mempengaruhi banyak anak muda Indonesia,” kata Glenn sebelum membawakan lagu itu.

Glenn Fredly Deviano Latuihamallo baru saja pergi, meninggalkan isteri dan anaknya yang baru berusia 2 bulan. Ia akan terus dikenang sebagai salah satu penyanyi terbaik Indonesia. Pejuang yang peduli pada nasionalisme, keberagaman dan optimisme bagi Indonesia. ***


0

Puisi di HOMAGI Magazine, April 2024

Suatu kehormatan menjadi salah satu penulis yang ditampilkan International HOMAGI Magazine edisi April 2024.

Di situ ada para penulis dari berbagai negara seperti Isilda Nunes, Tasneem Hossain, Leticia Guzman, Laskiaf Amortegui. Juga seniman hebat seperti Ram Krishna Agrawal, Oxcy Brenes Terima kasih untuk Pemimpin Redaksi HOMAGI, Manaek Sinaga yang tak henti bergelut dan memperjuangkan sastra. Semoga HOMAGI terus berkembang, menjadi yang terbaik dan membawa Indonesia ke segala sudut dunia. HOMAGI INTERNATIONAL MAGAZINE Vol.1 No.5 ISSUE READ FLIP https://bit.ly/3UcXgAr

DOWNLOAD
Download-1:
Download-2:

Monday, July 8, 2024

0

Eko Setyawan Dalam Kepantasan dan Kepatutaan

 

Hasil drawing Grup Liga 3 2023/2o24 (Foto : Instagram InfoligaIndonesia)

Liga 3 2023/2024 penuh kejutan, tak kalah dengan Liga 1. Bahkan Liga 3 lebih komplet karena di situ ada olahraga lainnya seperti tinju, karate, Kungfu atau taekwondo.

Wasit  Liga 3 pun punya kelebihan lain dibanding teman-teman sejawatnya : larinya harus lebih cepat dan punya bekal bela diri. Itu modal untuk lari  jika dikejar pemain, atau menghadapi jotosan karena keputusannya.

Kita cuma bisa mengelus dada. Semua itu jadi pekerjaan rumah yang terus ada setiap musim. Tak hanya bagi PSSI untuk menghasilkan wasit yang berkualitas, tidak memihak fair play dan tegas. Para pelaku sepakbola juga punya pe-er untuk mendidik para pemainnya agar tidak mudah tersulut emosi, sehingga menghadirkan olahraga selain sepakbola di lapangan.

Selain pertunjukan bela diri, Liga 3 yang saat ini sudah memasuki 16 besar putaran nasional Liga 3 2023/2024 juga menyajikan  kejutan lain.

Tiga klub yakni Adhyaksa Farmel FC, Persibo Bojonegoro dan Persikota Tangerang ternyata diduga dikelola oleh satu orang  yang sama, yakni Eko Setyawan.

Ketiganya itu juga lolos ke babak 16 besar Liga 3 musim ini dan punya peluang cukup besar untuk lolos ke Liga 2.

Eko Setyawan sebelumnya kurang dikenal oleh publik pecinta sepakbola tanah air. Namanya mencuat ketika terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2023-2027. Ia merupakan pengusaha muda yang memiliki Farmel Isvil Football Academy.

Menurutnya, seperti dilansir kompas.id, di Persikota dan Persibo dirinya hanya berperan sebagai penasihat klub. Ia pun tidak masuk dalam jajaran manajemen kedua klub yang sempat mewarnai kompetisi profesional Indonesia pada awal dekade 2000-an itu.

"Saya CEO hanya di Adhyaksa Farmel. Karena saya diminta oleh kedua klub (Persikota dan Persibo) itu, orang melihat saya (menjabat) CEO juga, padahal tidak," tutur Eko dalam perbincangan, Jumat, 17 Mei 2024 malam.

Bagi Eko, wajar kedua klub itu meminta bantuannya menghadapi Liga 3 2023-2024. Hal itu, tambahnya, disebabkan Eko yang menjabat sebagai anggota Exco PSSI, dianggap mengerti sepak bola.

Selain itu, jelas Eko, di Persikota dan Persibo, ia hanya berperan sebagai penasihat klub. Ia pun tidak masuk dalam jajaran manajemen kedua klub yang sempat mewarnai kompetisi profesional Indonesia pada awal dekade 2000-an itu.

"Saya CEO hanya di Adhyaksa Farmel. Karena saya diminta oleh kedua klub (Persikota dan Persibo) itu, orang melihat saya (menjabat) CEO juga, padahal tidak," tutur Eko.

CEO Persibo Bojonegoro Eko Setiawan (kiri) menyerahkan jersey Persibo baru ke Pj Bupati Bojonegoro, Adriyanto (Foto : Prokopim Bojonegoro) 

Keinginan Eko untuk membantu Persibo dan Persikota didasari keterkaitan sejarah kehidupannya dengan kota asal dua klub itu. Ia lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, kemudian ia bermukim dan menjalankan bisnis di Kota Tangerang, Banten.

"Sekali lagi apa salahnya jika hanya memberikan masukan, nasihat, dan dukungan untuk kemajuan sepak bola di daerah kelahiran dan tempat tinggal saya kini," kata Eko.

Posisi Tertinggi

Dari respon Eko, ada beberapa hal yang menarik untuk disoroti. Respon lelaki kelahiran Dusun Sidokumpul, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro itu sendiri bisa diartikan sebagai penjelasan, sekaligus bantahan terhadap berita yang beredar tentang dirinya yang memegang kekuasaan di tiga klub.

Sah-sah saja membantah jika ia tidak terlibat di dalam manajemen Persibo Bojonegoro dan Persikota Tangerang.

Ia menekankan, apa salahnya jika hanya memberikan masukan, nasihat dan dukungan bagi Persibo Bojonegoro dan Persikota.

Penjelasan Eko terasa naif, apalagi ia seorang pengusaha. Pemilik Farmel Cahaya Mandiri, perusahaan yang  bergerak di bidang chemical trading, industri pengolahan air bersih dan limbah.

Jika tidak terlibat dalam manajemen Persibo dan Persikota, lalu berbagai berita yang sudah ada dan menyebut dirinya sebagai CEO kedua klub itu apakah harus diartikan salah?. Media yang menuliskan itu ceroboh, tidak akurat?. Tapi anehnya tak pernah dibantah olehnya.

Seorang CEO, yang singkatan dari Chief Executive Officer bukanlah jabatan kaleng-kelang. Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, CEO adalah posisi tertinggi dalam hierarki manajemen.

CEO adalah individu yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan strategis, pengelolaan operasional, dan kinerja keseluruhan perusahaan.

Dalam banyak kasus, CEO adalah wajah bagi perusahaan yang mengomunikasikan visi perusahaan kepada publik atau pemerintah. Terkadang pemilik perusahaan juga merangkap sebagai CEO.

Pernyataan tidak terlibat dalam manajemen dua klub itu seperti meniadakan sejarah saat Eko Setyawan menerima pengelolaan Persibo Bojonegoro di Pendapa Malowopati Pemkab Bojonegoro, 25 Oktober 2023.

Belum setahun peristiwa itu terjadi. Manajemen Persibo Bojonegoro di bawah kepemimpinan Abdulloh Umar menyerahkan secara resmi pengelolaan klub ke Eko Setyawan.

Saat itu Eko menyatakan keyakinannya mampu membawa klub kebanggaan kabupaten penghasil minyak dan gas bumi (migas) sebutan lain Bojonegoro naik kasta liga 2 nasional.

"Saya yakin, Persibo Bojonegoro akan berkesempatan besar untuk saya naikkan ke liga 2, bahkan ke liga 1 kedepannya," kata Eko Setiawan. Pernyataan yang jarang atau ajaib untuk disampaikan oleh seorang penasihat, atau pemberi masukan dan dukungan.

Potensi

Sebagai salah satu anggota Exco yang muda, kecintaan Eko Setyawan terhadap sepakbola patut diapresiasi. Tidak banyak pengusaha muda yang mau berkorban dana yang tidak sedikit untuk kemajuan sepakbola.

Apalagi sosok seperti Eko, yang saat ini juga Pjs.Ketua Asprov DKI Jakarta, memulainya dari bawah. Mendirikan akademi dan klub dari level bawah, di Liga 3. Tidak langsung membeli lisensi klub untuk ganti baju dan home base.

Mengelola klub di Liga 3 memang tidak mudah. Ada aspek pembinaan dalam pengeloaannya. Sponsor pun susah didapat karena daya tariknya memang tidak sekuat Liga 2 apalagi Liga 1.

Kepedulian untuk mengurus dua klub sekaligus, seperti yang dilakukan Eko, butuh "nafas panjang" dan sikap konsisten. Masyarakat setempat bisa menikmati hiburan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap klub lokal.

Namun, dengan menjadi CEO di tiga klub akan mengundang persepsi yang tidak baik, meski orang akan kagum akan kemampuan mendanainya. Di situ ada soal kepantasan dan kepatutan.

Kepantasan jelas dimiliki, karena ini menyangkut logika. Pantaslah dengan adanya dana berlimpah mengurusi tiga klub sekaligus.

Sedangkan kepatutan menyangkut perasaan dan hati. Meski pantas tapi tidak bisa melupakan pandangan masyarakat soal patut. Bisa muncul persepsi miring: "untuk apa mengumpulkan banyak klub yang mempunyai hak suara di kongres PSSI?".

Lebih elok jika Eko Setyawan menaruh orang kepercayaannya di Persibo Bojonegoro dan Persikota Tangerang sebagai CEO. Tidak diborong sekaligus karena akan mengundang sorotan soal kepatutan.

Langkah seperti itu sering dilakukan para pemilik atau pemegang saham mayoritas yang memiliki lebih dari satu klub.

Eko Setyawan bisa belajar dari situ, dan tetap membantu perkembangan sepakbola Indonesia yang masih menyisakan lobang-lobang untuk ditambal. Apalagi dia tak hanya masih muda tapi juga anggota Exco PSSI yang memberi arah bagi sepakbola Indonesia. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/664a6de4de948f7ce6000392/eko-setyawan-dalam-kepantasan-dan-kepatutaan


0

3 Puisi di Majalah Migospecta

 



Ada 3 (tiga) puisi saya yang dimuat di Migospecta International Magazine 5th Issue.

Migospecta merupakan majalah internasional berbahasa Inggris, Spanyol dan Indonesia. Majalah yang dikomandoi oleh Manaek Sinaga ini membicarakan literatur, seni (art) dan musik.

Berikut link untuk membaca Migospecta edisi ke-5 Juni 2024. READ FLIP: https://bit.ly/3RSlgIW


0

Skema Usaha Kuliner Tahun 2023, Pasar yang Makin Cepat Berubah

Mooncake (Foto : Worldbakers.com)

Dua tahun lebih situasi pandemi mengubah lanskap usaha kuliner di Indonesia dan juga manca negara. Bukan hanya tren makanan favorit masyarakat yang bergeser, tapi juga bagaimana masyarakat memilih untuk menikmati hidangan favorit mereka pun turut berubah.

Masyarakat kini lebih banyak dan juga didorong untuk menggunakan metode pembayaran elektronik saat membayar pesanan makanan. Selain kemudahan dan keamanan, faktor promosi yang variatif, membuatnya jadi metode pembayaran paling disukai dibandingkan dengan bayar tunai.

Mengutip laporan salah satu start up Grabfood, angka pertumbuhan bisnis F&B aktif bulanan di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 65% pada tahun 2020. Angka itu dibandingkan dengan tahun 2019.

Dalam pandangan Ir.Petrus Gandamana MM, yang banyak terlibat menjadi mentor usaha startup kuliner dan teknikal F&B serta juga sebagai pembicara dalam berbagai event dan seminar tentang bisnis UMKM, bahwa dalam menjalankan bisnis kuliner, tentu saja kualitas produk dan bahan makanan pembuatannya menjadi hal utama yang perlu diperhatikan.

Jika tidak memperhatikan kualitas produk pangan yang digunakan, tentu akan merusak reputasi. Ini tidak bisa dibiarkan jika usaha memamng ingin bertumbuh secara jangka panjang. "Harus ada prinsip dan filosofi yang tegas dan jelas dari pemilik usaha mengenai bagaimana nilai-nilai unggul usahanya dalam melayani pelanggan,"tegas Petrus

Menjaga kualitas produk ini bisa dimulai dari pemilihan pemasok bahan dan alat-alat dengan reputasi baik, yang bisa didapat dengan rekan bisnis yang juga menjalan bisnis kuliner. Hal ini untuk mendapat gambaran dari kualitas yang ditawarkan. "Selain itu, kualitas produk juga bisa ditingkatkan dari ragam dan keunikan sajian menu yang ditawarkan, baik yang regular maupun yang seasonal,"lanjut Petrus.

Dalam mengembangkan bisnis kuliner untuk bisa jadi lebih baik, tentu saja kita perlu memperhatikan apa yang konsumen inginkan. Secara mudah tentu bisa menanyakan langsung terkait kritik dan saran dari konsumen, terutama pelanggan setia.

Namun, alangkah baiknya juga perlu mencermati kebiasaan konsumen tetap ketika mereka berkunjung ke restoran atau kafe yang Anda miliki. Anda bisa memberikan sentuhan personalisasi kepada konsumen tetap ini. Hal tersebut dengan mudah bisa diaplikasikan dengan cara menawarkan menu favorit mereka terlebih dahulu.

Meskipun bukan hal yang dirasa signifikan, hal tersebut bisa membuat konsumen menilai bahwa bisnis kuliner Anda cukup memerhatikan kebiasaan konsumen, dan kemungkinan dapat menyentuh hati pelanggan tetap Anda, karena pemahaman akan kebiasaan mereka.

Selain itu, mengetahui adanya personalisasi dari layanan yang ditawarkan, bisa saja pelanggan setia itu mendatangkan konsumen potensial lainnya, yang akan membantu mengembangkan bisnis kuliner kita jadi lebih kuat.

Konsisten 

Dalam menjalankan bisnis kuliner, tren jadi salah satu acuan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan bisnis. Oleh karena itu, penting untuk terus membuka pandangan dan peluang terhadap kehadiran tren baru di dunia kuliner. Dengan kepiawaian dalam mengintip dan menangkap peluang tersebut, kita memerlukan strategi baru agar mampu bersaing di lanskap bisnis kuliner yang ada.

Strategi baru ini bisa dipersiapkan mulai dari cara pemasaran yang lebih relevan. Misalnya menggunakan media sosial dan influencer yang tepat agar mampu menjaring pelanggan lebih luas.

Kita juga bisa memperkenalkan menu baru atau menu tematis setiap bulannya, yang dihasilkan dari riset terhadap tren makanan atau minuman yang sedang berkembang. Langkah ini demi menarik minat pelanggan lebih besar.

Meskipun begitu, tetap hadirkan sentuhan identitas dari bisnis kuliner yang dijalankan saat ini, agar pelanggan setia mudah mengenali inovasi yang dilakukan, "Walau inovasi itu tetap mengedepankan nilai unggul yang memang dicari pelanggan," tegas Petrus

Serap Informasi

Darimana bisa terus menyerap informasi tren dan informasi kemajuan kuliner berbagai negara, agar tidak ketinggalan?

Sebenarnya hal ini bukan menjadi kendala, asalkan kita rajin berkomunikasi dengan pengusaha lain, menjelajahi internet, menengok berbagai channel sosmed yang ada.

Namun tentunya tidak semua informasi itu mampu memberikan kedalaman pengetahuan yang diperlukan para pelaku usaha dan profesional kuliner.

Salah satu negara yang diakui memiliki banyak inovasi, dan selama beberapa puluh tahun ini menjadi kiblat kuliner Asia, termasuk Indonesia, adalah negara Taiwan. Negara berpenduduk 25 juta orang itu, terbukti mampu bertahan dan cepat pulih dari pandemi Covid-19, bahkan selama 2 tahun ini penduduknya menikmati banyak bonus dari negara dan perusahaan tempat mereka bekerja, karena banyak perusahaan di sana memetik laba besar selama pandemi.

"Sudah lama Taiwan dikenal sebagai trendsetter (tolok ukur tren) bakery di banyak negara di Asia, katakan saja beberapa negara seperti Tiongkok, Malaysia, Singapura, Indonesia, Thailand, Hongkong. Mengapa hal ini bisa terjadi. Tak lepas karena kualitas Pendidikan dan sumber daya manusianya yang kreatif, terampil dan pekerja keras, khas negara yang miskin sumber daya alam?," ujar Petrus Gandamana.

Melihat pentingnya Taiwan sebagai kiblat kuliner Asia, maka merupakan keuntungan saat salah satu media, seperti halnya BARECA Media, saat memilik kerjasama erat dengan para pelaku usaha kuliner Taiwan, yang tergabung dalam Asosiasi Bakery Taiwan.

Kerjasama itu berupa saling tukar informasi yang bermanfaat bagi para pelaku UMKM di Indonesia. Salah satunya adalah peluang pasar di Taiwan yang memiliki 300.000 WNI diaspora, seperti tercatat dalam data Kementerian Luar Negeri (Agustus 2022).

Penanda Kerjasama 

Sebuah dialog lewat webinar pada 20 Desember 2022 lalu menjadi penanda kerjasama itu. Dari BARECA Media diwakili Petrus Gandamana, sedangkan dari Taiwan ada  Mr.Jalan Hsieh (Wakil Ketua Asosiasi Bakery Taiwan) dan Ms. Ning Liu, yang merupakan IMC Dept. Team Leader dari Chan Chao International Co.Ltd, perusahaan penyelenggara pameran internasional dari Taiwan.

Dalam webinar itu Mr.Jalan Hsieh menjelaskan beratnya kondisi bisnis bakery di Taiwan saat pandemi Covid-19 terjadi. Gerai-gerai bakery, kafe dan restoran harus tutup atau buka untuk beli take-away saja, sehingga omset usaha turun drastis.

Sedangkan bakery-bakery yang biasanya memasok cake atau produk pastry ke restoran-restoran, juga tidak bisa mengirim produknya karena usaha restoran juga tidak bisa menerima pengunjung.

Hal lain yang juga memberatkan bagi usaha bakery di Taiwan saat pandemi berlangsung adalah usaha produk hantaran. Misalnya untuk perayaan tahun baru atau festival mooncake juga tidak bisa berjalan. Secara umum usaha bakery Taiwan mengalami penurunan penjualan sampai 50 persen.

Namun ada kondisi lain di mana penjualan produk roti ternyata meningkat karena roti telah menjadi makanan utama saat sarapan pagi. Merasa kawatir kalau gerai bakery tutup karena ada aturan yang berubah-ubah, maka masyarakat sering membeli roti dalam jumlah melebihi kebutuhan normal. Ini sebagai antisipasi kalau tiba-tiba gerai bakery tutup.

Dari luar Taiwan, kondisi rantai pasokan bahan baku bakery dunia yang mengalami banyak hambatan, memberi dampak tekanan pada meningkatnya biaya bahan baku bakery di Taiwan. Di sisi lain penjualan mulai pulih dan membuat produksi terus meningkat. Maka terpaksa harga roti dan cake harus dinaikkan.

Krisis itu bisa teratasi lebih cepat, dan kegiatan pameran yang sudah dikenal luas yakni Taipei International Bakery Show (TIBS) bisa berjalan meski pandemi belum usai, ini semua demi menjaga semangat para pelaku usaha bakery-resto dan chef di sana.

Pameran bakery di Taiwan sudah berlangsung sejak 1999, yang merupakan komitmen dari Asosiasi Bakery Taiwan untuk mengembangkan teknologi baking, dan melatih para baker profesional Taiwan agar disegani di dunia.

Untuk TIBS tahun 2023 akan diselenggarakan antara 16 sampai 19 Februari 2023 ini yang berada di Taipei Nangang Exhibition di Hall 1 lantai 1 dan 4.

Lantai 1 akan diisi oleh peralatan dan mesin-mesin bakery sedangkan lantai 4 akan terdiri dari produk-produk bakery, bahan baku dan usaha bakery / gerai bakery. Ada 340 peserta pameran yang mencakup 1600 booth dengan menampilkan merek-merek terkenal dalam dunia bakery di dunia atau Taiwan.

TIBS 2023 akan mencakup 4 bidang yaitu produk-produk bakery, kemudian bahan baku bakery, lalu peralatan dan berikutnya adalah usaha bakery.

Selain itu akan ada 3 kompetisi di TIBS 2023 yaitu 2023 UIBC Junior World Championship of Confectioners yang meliputi produk cake dan pastry ukuran kecil. Lalu ada kompetisi 2023 UIBC International Competition for Young Bakers, yang akan memfokuskan pada produk roti. Pertandingan UIBC mencakup peserta dari 18 negara.

Sedangkan untuk kunjungan ke Taiwan, menurut Ms. Ning Liu, sesuai kondisi per 20 Desember 2022, tidak lagi memerlukan karantina, tidak memerlukan vaksinasi, akan melakukan 4 rapid test di bandara dan saat berada di tempat umum yang tertutup wajib memakai masker, begitu juga saat berada di transportasi umum.

Sekolah Baker

Kemajuan industri bakery di Taiwan juga tidak lepas dari adanya sekolah baker/pembuat roti yang didirikan di awal tahun 70an di Taiwan, di sebuah distrik bernama Pali.

Sekolah baker tersebut hadir karena adanya institut penelitian biji-bijian Taiwan (China Grain Products Research and Development Institute/CGPRDI). Saat Petrus berkunjung ke sekolah itu sekitar 14 tahun lalu, terasa mengagumkan melihat sarana Pendidikan yang ada baik fasilitasnya maupun system pengajarannya, yang membuat para lulusannya banyak yang jadi konsultan bakery di berbagai negara.

Kepala Sekolah baker di sana menjelaskan kepada Petrus mengapa akhirnya Taiwan menjadi trendsetter usaha bakery di berbagai negara di Asia dan Australia. Tak lain karena lulusannya berkualitas tinggi dalam membuat aneka produk roti dan cake, yang sesuai dengan kebutuhan berbagai negara di Asia, yang panas dan lembab, mirip dengan situasi di Taiwan.

"Bagi pelaku usaha bakery, para profesional di dunia industri baking, para pehobi kuliner atau pebisnis bahan baku dan peralatan bakery, silahkan segera menyiapkan diri berkunjung ke TIBS 2023, yang merupakan event penting dalam mendapatkan informasi dan inspirasi mengenai inovasi dunia bakery dari negara yang menjadi rujukan tren bakery di Asia," pungkas Petrus Gandamana. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/63dc2b3f4addee498343bf32/skema-usaha-kuliner-tahun-2023-pasar-yang-makin-cepat-berubah





0

Membentuk TGPF, PSS Sleman Sekedar Cari Pelaku Pengeroyokan?

 

Kericuhan usai PSS Sleman dikalahkan Bali United 0-1 di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Jumat (3/11/2023). Foto: detikJogja

Sebenarnya apa yang hendak dicari oleh PSS Sleman dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengusut kasus penganiayaan Media Officer Madura United FC (MU), Ferdiansyah Alilifurrahman pada Minggu, 24 September 2023?.

Sudah hampir dua minggu tim itu dibentuk dan dirilis pada 28 September 2023, empat hari setelah terjadinya peristiwa memalukan dengan pengeroyokan yang dilakukan oknum suporter. Kejadian yang terbuka di depan mata para wartawan, di area yang seharusnya steril.

Pembentukan TPGF itu, menurut PSS Sleman, dilakukan setelah tim berjuluk Super Elang Jawa itu berkonsultasi dan berdiskusi dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi.

Di dalam tim yang tidak diketahui diketuai oleh siapa, dan berapa lama menjalankan tugasnya, terdapat aparat kepolisian, PT Putra Sleman Sembada (PSS), Panitia Pelaksana (Panpel) PSS Sleman dan Madura United.

Tim itu diharapkan menemukan pelaku penyerangan yang melukai Ferdiansyah, yang terjadi setelah laga PSS Sleman dan Madura United di Stadion Maguwoharjo, Sleman berakhir imbang 1-1.

PSS menyatakan, pembentukan TGPF itu menunjukkan keseriusan PSS bersama LIB untuk menuntaskan pengeroyokan yang terjadi di pintu masuk pemain.

Sebelum terjadi pengeroyokan, ada suporter yang masuk di ruang konferensi pers, dan melakukan intimidasi dengan membalik papan nama di meja tim Madura United.

"Setelah pertandingan selesai kami menghadiri Post Match Press Conference di ruang Preskon Stadion Maguwoharjo Sleman sebagaimana kewajiban dalam regulasi. Setelah post match di mulai, ada sekelompok oknum yang yang tidak menggunakan ID CARD (tidak terdaftar) masuk ke dalam ruangan tersebut dengan menggunakan penutup wajah," tulis akun resmi Instagram @maduraunited.fc, Senin, 25 September 2023.

"Setelah pemain dan pelatih masuk, nahasnya Media Officer kami yang masih tertinggal di ruang preskon didekap dan didorong oleh oknum yang lain dan selanjutnya diseret ke arah pintu Player entrance (Pintu masuk pemain) untuk kemudian dikeroyok secara bersama-sama oleh beberapa oknum lain yang ada di luar," tambah akun MU tersebut.

Beruntung, Ferdiansyah mampu meloloskan diri. Namun, dia mengalami luka di pelipis dan memar di pipi. Kondisi itu membuatnya harus mendapatkan penanganan dari pihak medis.

"Madura United FC MENGUTUK KERAS atas kejadian ini. Kami berpendapat bahwa stadion seharusnya menjadi tempat yang ramah bagi semua orang terutama bagi kedua tim yang bertanding. Terlebih kejadian ini terjadi di ruang media conference yang seharusnya menjadi ruang terbatas diperuntukkan bagi personil yang terdaftar. Kami akan melakukan protes resmi kepada operator liga atas ketidaknyamanan ini, selain kami juga menempuh upaya hukum demi terangnya insiden ini," tegas MU lewat akun resmi Instagramnya.  

Mencari Apa

Lalu, kembali pada pertanyaan awal, apa yang hendak dicari oleh PSS Sleman dengan membentuk TGPF ini?

Adanya tim ini seolah peristiwa itu begitu luar biasa, sehingga ada tim gabungan yang sepertinya pertama kali dilakukan di Liga 1. Mengalahkan kasus lain yang melibatkan suporter di klub-klub lain seperti penghadangan dan pelemparan bus pemain lawan. Bahkan adanya suporter lawan yang tewas dan belum dituntaskan hingga kini meski sudah terjadi beberapa tahun lamanya.

Padahal, bagi Polda DIY itu bukan perkara sulit dibandingkan kasus lain yang sudah dipecahkan oleh mereka.

Selain rekaman cctv, ada banyak saksi yang bisa mengungkapkan pelaku pengeroyokan itu. Terutama petugas yang membiarkan suporter masuk ruang konferensi pers, yang sekali lagi harusnya steril. Tanpa kartu identitas (ID Card) media dan menutupi wajah jelas tidak bisa sembarangan masuk.

Maka tak mengherankan jika sehari setelah peristiwa itu, PSS menyatakan menyerahkan pengusutan pengeroyokan itu kepada polisi. Hal ini juga seiring dengan laporan pihak Madura United FC ke Polda DIY.

Pembentukan TGPF bisa menimbulkan anggapan bahwa kasus ini sangat berat, sehingga tak cukup diserahkan kepada polisi saja.

Terlepas apa hasil kerja dari TGPF, manajemen PT PSS semestinya mengakui dengan lapang dada bahwa selama empat tahun ini mereka belum berbenah soal kinerja Panpel. Ini yang utama. Bukan dengan membentuk TGPF, agar tampak keren dari segi nama.

Hasil yang dinanti bukanlah sekedar hasil penangkapan oknum suporter yang mengeroyok, tapi bagaimana LIB juga menegur dan membantu pembenahan kinerja Panpel PSS. Apakah ada yang salah dengan regulasi dan pelatihan menjelang kompetisi digulirkan? Ataukah sumber daya manusia di PSS yang harus di-upgrade?.

Peristiwa serupa, pengeroyokan oleh suporter, pernah terjadi pada 21 Juni 2019. Saat itu PSS Sleman menjamu Bhayangkara FC, yang kebetulan hasilnya imbang 1-1.

Korbannya justeru dari manajemen PT PSS, yakni Manajer Umum Akademi PSS Sleman, Johannes Sugianto.

Lokasinya juga berdekatan, di pinggir lapangan di dekat para pemain kedua tim biasa berdiri sebelum memasuki lapangan. Sebanyak 4-5 suporter, tanpa mengenakan penutup wajah, masuk dari lorong pemain dan langsung melakukan pengeroyokan.

Kebetulan saat itu juga berlangsung konferensi pers. Sedangkan para pemain masih berada di ruang ganti.

Kasus itu berakhir dengan damai di Polda DIY.

Dua peristiwa itu seharusnya sudah menjadi lecutan keras bagi manajemen PSS Sleman untuk berbenah diri. Berani mengambil tindakan tegas demi perasaan nyaman dan aman bagi tim tamu, wartawan dan suporter.

Jika PSS Sleman masih melakukan pembiaran dengan ulah suporternya yang melenggang bebas memasuki area steril, karena Panpel kenal dengan beberapa oknum suporter, jelas memang tak mau belajar dari kasus serupa empat tahun lalu.

LIB pun terkesan tidak melakukan tindakan tegas meski PSS Sleman membiarkan suporter menginjakkan kakinya di area-area steril.

Tidaklah mengherankan jika pembiaran demi pembiaran itu menimbulkan peristiwa seperti yang menimpa MO Madura United. Mungkin karena korbannya tim tamu, maka PSS Sleman seperti kebakaran jenggot sampai harus membentuk TGPF segala?.

PSS Sleman tentu tak mau tersandung kedua kalinya, yang pasti akan mencoreng wajahnya sendiri sebagai tuan rumah, yang tidak bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi tamu-tamunya. Selain tentunya kandangnya, Stadion Maguwoharjo, yang sudah tidak angker lagi bagi lawan. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/65243cbdee794a0f296b5762/membentuk-tgpf-pss-sleman-sekedar-cari-pelaku-pengeroyokan



0

Investigasi dan Basa-Basi PSS Sleman

Oknum suporter (baju hitam kiri) saat berulah pada konferensi pers Madura United. (Foto: ist)

Investigasi. Begitu pernyataan CEO PT Putra Sleman Sembada, Perusahaan yang menaungi klub kebanggaan warga Sleman itu, Gusti Randa ketika ditanya langkah apa yang dilakukan klub itu menyikapi kericuhan yang terjadi antar suporter di Stadion Jatidiri, Semarang, 3 Desember 2023.

Saat itu, menjelang pertandingan berakhir dengan kekalahan PSS Sleman 0-1 dari tuan rumah PSIS Semarang, terjadi bentrokan suporter. Sekitar 2000 suporter PSSI datang menyaksikan tim kesayangannya berlaga.

Aksi lemparan dari tribun membuat ofisial dan pemain di bench dari kedua kubu masuk ke lapangan. CEO PSIS A.S Sukawijaya alias Yoyok Sukawi menjadi salah satu korbannya dan harus menjalani delapan jahitan di kepala.

Kehadiran suporter PSS dalam laga tandang tak pelak menjadi sorotan. Suporter tim tamu dilarang hadir ke stadion sebagaimana menjadi aturan di Liga 1 musim ini yang merupakan imbas Tragedi Kanjuruhan.

Menurut Gusti Randa yang mantan aktor sinetron itu, investigasi dilakukan karena diminta Komdis (Komite Disiplin PSSI) untuk mencari siapa saja orang-orangnya,"

"Dan kalau bisa (hasil investigasi) dilaporkan ke Komdis. Gampang itu bisa terlihat, di beberapa media massa juga terlihat jelas kan (pelaku kericuhan)," ujarnya kepada DetikSport, 7 Desember 2023.

CEO PT PSS itu juga mengaku bingung darimana suporter PSS bisa mendapatkan tiket pertandingan tandang. Sebelumnya suporter PSS juga terbukti hadir pada laga-laga tandang lainnya di Liga 1.

Pernyataan melakukan investigasi terkait kerusuhan yang terjadi bukan satu-satunya janji dari klub berjulukan Super Elang Jawa (Super Elja) itu terkait tindakan suporternya.

Masih segar dalam ingatan adanya kasus penganiayaan Media Officer Madura United FC (MU), Ferdiansyah Alilifurrahman di Stadion Maguwoharjo pada Minggu, 24 September 2023.

Sebelum terjadi pengeroyokan, ada suporter yang masuk di ruang konferensi pers, dan melakukan intimidasi dengan membalik papan nama di meja tim Madura United.

Setelah konfrensi pers itu dibatalkan, karena suasana yang tidak kondusif, beberapa suporter PSS lalu mengeroyok Ferdiansyah di lorong tempat pemain keluar dari ruang ganti menuju lapangan.

Investigasi, yang mestinya cukup dilakukan sendiri oleh PSS Sleman, semestinya mudah dilakukan. Bagaimana beberapa supporter bisa melenggang masuk seperti berjalan-jalan di taman, tanpa identitas untuk masuk ruang konferensi pers.

Akibat peristiwa yang menjadi sorotan publik itu, dan Madura United memberikan laporan resmi ke Polda DI Yogyakarta, PSS lalu membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang diumumkan pada 26 September 2023.

Tim itu terbentuk setelah PSS berkonsultasi dengan PT LIB,  yang di dalamnya terdiri dari PSS, Madura United dan Polda DI Yogyakarta. Hingga saat ini tidak ada hasil dari tim tersebut yang disampaikan ke publik.

Padahal peristiwa memalukan itu terjadi di kandang sendiri, cakupannya sempit (di ruang konferensi pers dan lorong pemain menuju lapangan). Bukannya seperti yang terjadi di Stadion Jatidiri, Semarang saat suporter bentrok di tribun hingga turun ke lapangan.

Setelah kasus pengeroyokan itu, suporter PSS kembali membuat ulah usai laga menjamu Bali United di Stadion Maguwoharjo pada 3 November 2023 sore. PSS kalah dengan skor tipis 0-1, yang membuat suporter marah dan turun ke lapangan usai laga itu.

Bench pemain di tepi lapangan rusak setelah menjadi sasaran amukan suporter. Mereka bahkan terlibat keributan dengan beberapa ofisial dan steward pertandingan yang mencoba menghalangi suporter mendekati ruang ganti pemain.

Dua peristiwa itu pun tenggelam begitu saja, tak ada pernyataan apapun dari PSS. Laporan Madura United ke Polda DIY juga tidak diketahui apakah masih dalam proses atau dicabut.

Padahal pengeroyokan dan pengrusakan fasilitas umum itu bisa dijerat dengan hukum, seperti diatur dalam ketentuan KUHP lama yang masih berlaku pada saat artikel ini diterbitkan, dan UU 1/2023 tentang KUHP baru yang mulai berlaku 3 tahun terhitung sejak tanggal diundangkan, yakni pada tahun 2026.

Di dalam Pasal 262 ayat (1) dan (2) UU 1/2023 disebutkan :

1. Setiap orang yang dengan terang-terangan atau di muka umum dan dengan tenaga bersama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak kategori V yaitu Rp500 juta.

2. Jika kekerasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan hancurnya barang atau mengakibatkan luka, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 tahun atau pidana denda paling banyak kategori IV yaitu Rp200 juta.[4]

Tenggelamnya kasus pengeroyokan ofisial tim lawan dan pengrusakan bench pemain itu menunjukkan pernyataan PSS soal investigasi dan mengusut tuntas hanyalah basa-basi semata.

Pemanis di bibir saja, seperti yang sering dilakukan oleh banyak politisi atau kalimat yang sering tersaji di sinetron-sinetron. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/65768637de948f6f803f97c2/investigasi-dan-basa-basi-pss-sleman



Sunday, July 7, 2024

0

Adaptasi Menjadi Pondasi Terbentuknya Konsep Ngaben yang Sederhana Di Banjar Jakarta Utara

 

Agung Patera saat promosi doktor dan lulus dengan sangat memuaskan di Universitas Sahid Jakarta (Foto : dok.A.Patera)

Sulit membayangkan upacara Ngaben seperti di Bali bisa terlaksana di Jakarta. Bukan soal finansial untuk membiayai semua itu, tapi lebih dari sekedar biaya untuk mengadakan Ngaben yang merupakan upacara sakral bagi umat Hindu.

Di Bali, dalam prosesi Ngaben ada patung raksasa hewan mitos yang diarak, dan nantinya dibakar dalam upacara kremasi. Patung itu merupakan bade, menara kayu setinggi 6 meter, bahkan ada yang lebih dari 20 meter, yang membawa mayat dan peti mati.

Namun, bukan berarti Ngaben tidak bisa berlangsung di Jakarta. Bagi umat Hindu, upacara Ngaben dilaksanakan dimanapun mereka berada, dengan bentuk penghormatan kepada leluhur, dengan bentuk komitmen individu dan kelompok terhadap keluarga, adat dan agama.

Semua itu berdasarkan ajaran dari agama Hindu, bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan melalui proses yang panjang awal perjalanan jiwa menuju Parama atman (Roh tersebut diharapkan menyatu dg Ida Sang Hyang Widhi Wasa /Tuhan Yang Maha Esa).

"Penyesuaian prosesi upacara Ngaben di luar Bali itu terjadi karena berbagai pertimbangan. Misalnya, kondisi ekonomi dan lingkungan sosial budaya, apalagi jika di wilayah itu terdapat kebijakan yang mengatur tentang penanganan jenasah, seperti yang berlaku di DKI Jakarta,"jelas Dr.Agung Patera setelah mempertahankan disertasinya di Sidang Terbuka Universitas Sahid Jakarta, 9 Februari 2023 lalu.

Mahasiswa Program Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta itu membuat disertasi dengan judul  "Studi etnografi komunikasi tentang ritual Ngaben Masyarakat Hindu Bali Jakarta Utara". Ia dinyatakan lulus dengan sangat memuaskan.

Disertasi itu juga akan diterbitkan di IJESSS, International Journal of Environmental dengan judul "Ethnographic Communication of The Ngaben Ritual of Bali Hindus in Jakarta". IJESSS akan menerbitkannya pada 31 Maret 2023.

Dalam perspektif agama, kematian merupakan proses menuju kehidupan abadi yang lebih baik atau lebih buruk dari kehidupan yang dijalani di dunia. Setiap agama juga memandang kematian sebagai sesuatu yang sakral, sehingga dibutuhkan ritual tertentu untuk menghormatinya yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Umat Hindu dalam upacara penghormatan kepada arwah yang telah meninggal dilakukan melalui upacara Ngaben, atau penyucian arwah dengan upacara pembakaran jenazah.

Selain itu, umat Hindu Bali percaya kremasi melepaskan jiwa orang mati sehingga mereka dapat memulai siklus kehidupan berikutnya, memungkinkan mereka untuk memasuki dunia yang lebih tinggi untuk bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih baik

Ngaben dilakukan dimanapun umat Hindu berada dan dianggap wajib. Karena itu ritual Ngaben sebagai pencucian arwah dengan upacara pembakaran jenasah, seringkali sangat energik dan paling berwarna dari semua ritual lainnya.

Meski begitu, kadang-kadang seseorang memaksa untuk melakukan ritual Ngaben tanpa mempertimbangkan kondisi yang mereka hadapi dengan meminjam uang ke sana-sini.

Padahal, panjangnya prosesi Ngaben menjadikan kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan di sembarang tempat, Ada beberapa rangkaian upacara yang memakan waktu tidak sedikit.

Dari awal awal persiapan (nyiramin/memandikan) jenasah sampai dengan berakhirnya (ngising/ pembakaran), dilakukan secara sakral dan mengikuti aturan dan tuntunan dari Sulinggih (orang suci). Kondisi tersebut sering membawa orang Hindu di Bali yang homogen pada posisi harus menerima dan mengikuti setiap petunjuk dan arahan dari Ida Pedande.

Bagaimana dengan kondisi umat Hindu di Jakarta, kota besar yang heterogen, serta kolaborasi yang multikultur dalam berbagai sendi kehidupan dengan umat Hindu lainnya. Misalnya,  seperti etnis Jawa, Maluku, Sumbawa dan daerah-daerah lainnya yang memiliki cara dan kemampuan yang berbeda--beda.   

Di DKI Jakarta, sesuai dengan  Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 3 tahun 2007 tentang pemakaman, prosesi Ngaben  seperti layaknya di Bali tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, karena adanya peraturan yang membatasi waktu penyimpanan jenazah.

Pada bagian Kedua, pasal 22 tentang Penundaan Waktu Pemakaman, pada ayat (1) disebutkan bahwa untuk penundaan pemakaman lebih dari 24 jam diperlukan izin dari SKPD terkait, pada ayat (2) dijelaskan bahwa penundaan pemakaman paling lama 5 hari, dan jika lebih harus melakukan perpanjangan izin.

Proses tersebut tentunya kurang sejalan dengan prosesi Ngaben, karena bagi anggota masyarakat yang mampu, pelaksanaan Ngaben harus dilakukan berdasarkan hari baik dalam perhitungan kalender Hindu Bali.

Sementara bagi kelompok yang tergolong tidak mampu, upacara Ngaben harus dilakukan hingga biaya dan tenaga tersedia, tambah suami Dr.Alina yang mengelola Channel Youtube Bincang Online Inspiratif (BIONS).

Jika dalam masa penantian tersebut jenazah dimakamkan terlebih dahulu, maka proses penguburan harus lebih dari 1 tahun, baru dapat digali kembali setelah mendapat izin dari pejabat yang berwenang.


Fenomena yang terjadi saat ini di Masyarakat Banjar Jakarta Utara, mereka memahami bahwa upacara Ngaben  sebagai sebuah ritual yang wajib dilaksanakan walaupun di daerah rantauan, namun di sisi lain harus menyesuikan dengan keadaan setempat.

"Maka perlu penyelarasan dengan komunikasi yang intens, agar dapat mewujudkan pola sesuai dengan kondisi dan keberadaan umat Hindu di Jakarta Utara," jelas dosen di Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta itu.

Banyak hal yang dipertimbangkan untuk tidak dilakukan pada saat upacara Ngaben di Jakarta, yaitu dari sisi ruang atau tempat ritual dilaksanakan, yang jika mengikuti ritual lengkap maka dibutuhkan satu tempat yang luas untuk pelaksanaan upacara. Sementara hal tersebut tidak dapat dilaksanakan di Jakarta.

Dalam upacara (ritual) khususnya dalam upacara Ngaben,  umat Hindu Banjar Jakarta Utara tetap melaksanakannya,  namun dengan perubahan dan penyesuaian  sesuai dengan kondisi yang ada dan di lingkungan sekitar di Banjar Jakarta Utara.

"Semangatnya  adalah  agar budaya ngaben  tetap terjaga  kelestariannya dimanapun umat Hindu berada," kata Agung Patera, yang meski sudah 30 tahun berdiam di Jakarta namun tetap tidak meninggalkan adat dan budaya Bali . 

Dengan semangat kebersamaan di tempat   rantauan dan  memahami  konsep  pribahasa "dimana bumi di pijak disana langit di junjung"  pesan yang disampaikan agar mematuhi peraturan di tempat yang didiami.

Dengan kata lain, seseorang harus bisa beradaptasi dengan tempat tinggalnya (bukan hanya tempat asal), untuk dapat diterima dengan baik.

Maka terwujudlah suatu kesepakatan hal bentuk dan  pola Ngaben dengan adaptasi yang dilakukan saat ini di Banjar Jakarta Utara, yang dirasakan oleh umat Banjar Jakarta Utara sangat baik dan tidak menjadi beban yang berat bagi umat dikala ada kedukaan. ***

Upacara Ngaben dengan penyesuaian atau adaptasi ini sangat membantu umat, dari adanya hal tersebut maka novelty dari pada penelitian ini adalah "Adaptasi" yang menjadi pondasi terbentuknya konsep ngaben yang sederhana dikalangan Umat Hindu di Banjar Jakarta Utara sehingga dapat mewujudkan ke harmonisasian .

Hal ini sangat sejalan dengan ajaran Tri Hita karana yaitu menjaga hubungan yang selalu harmonisasi terhadap ke tiga hal yaitu  :  1. Hubungan harmonisasi terhadap Tuhan yang Maha Esa (Parahyangan),   2. Hubungan Harmonisasi terhadap sesama manusia (Pawongan) dan 3.hubungan harmonisasi terhadap lingkungan (Palemahan).

Melalui karyanya sebagai akademisi Agung Patera sudah menunjukkan kepedulian dan rasa cintanya sebagai orang Bali di rantauan dalam melestarikan nilai-nilai budaya Hindu dan mempertahankan Ajeg Bali. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/63e990e24addee0364507f72/adaptasi-menjadi-pondasi-terbentuknya-konsep-ngaben-yang-sederhana-di-banjar-jakarta-utara



0

Ketakutan Berbisnis, Nyaman dalam Ketidaknyamanan

Acara "I Love Food Bazaar" dengan mentor Petrus Gandamana (Foto : Barca Media & Training)

Berbisnis membutuhkan mental yang kuat dan kejelian serta kemauan kuat untuk mendisiplinkan diri, tak sekedar modal atau relasi semata. Banyak orang yang hendak berbisnis, atau sudah menjalaninya lalu saat menjalankannya merasakan ketakutan akan kegagalan.

Tchiki Davis, Ph.D., seorang konsultan, penulis, dan ahli teknologi kesejahteraan dari Berkeley, California, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ketakutan akan kegagalan adalah permasalahan umum untuk semua orang yang akan memulai karirnya. Namun ketakutan tersebut tentu harus dihilangkan dengan keberanian.

Meski memulai bisnis bisa jadi menegangkan, seperti dikutip dari Forbes, 12 Februari 2019, terutama ketika sudah memiliki pekerjaan mapan, ketakutan yang dirasakan bisa menjadi energi yang datang dari diri sendiri untuk memulai hal baru. Kuncinya adalah soal bagaimana mengelola rasa takut itu, karena, jika bisa mengelola rasa takut dengan baik, kita akan merasa lebih berdaya dan berkomitmen untuk menjemput mimpi baru.

Ada tiga hal yang harus membuat kita fokus, sehingga rasa takut yang ada bisa berubah dari musuh menjadi teman :

1. Nyaman 

Saat kita bekerja di sebuah perusahaan, penghargaan didapatkan karena sudah bekerja sesuai dengan tugas, memiliki relasi, tapi tidak melakukan terobosan-terobosan. Kita dianggap ahli di bidang pekerjaan tertentu, bisa menyelesaikannya dengan mata tertutup, dan kita merasakan kenyamanan.

Namun, tidak demikian saat kita berbisnis dan menjadi bos bagi diri sendiri. Menjadi pelaku bisnis yang sukses berarti harus bisa menerima dan mengelola rasa tidak nyaman. Kita tidak mungkin menjadi ahli dalam segala hal.

Seorang mentor atau rekan bisnis punya peran penting, yang bisa melengkapi beberapa bidang yang tidak bisa lakukan. Bersiaplah untuk merasa nyaman dengan mengambil risiko, mencoba hal-hal baru, dan terkadang bertentangan dengan keinginan.

2. Pola Pikir

Banyak yang beranggapan rasa takut merupakan emosi yang negatif, padahal itu respon yang sangat alami, juga hal baik karena menunjukkan ada dorongan dari dalam diri untuk melakukan hal besar.

Ketika seseorang memutuskan untuk terjun di dunia bisnis, rasa takut yang paling alami adalah takut untuk gagal. Seperti pernah dikemukakan oleh Bob Sadino, pengusaha nyentrik yang memulai usahanya dari nol : "Ketakutan adalah tantangan terbesar yang perlu dilawan. Takut itu timbul karena sudah nyaman di satu titik.

3. Belajarlah

Berdasarkan studi dari sebuah riset, salah satu cara untuk mengatasa rasa takut akan wirausaha adalah melalui ilmu pengetahuan dan proses mencari informasi. Proses ini termasuk melakukan riset dan berjejaring dengan mentor serta ahli di bidang-bidang yang akan digeluti.

Jeffry Jouw, Founder of Urban Sneaker Society (USS) saat menjadi narasumber dalam Talkshow Catika #SemuaBisaMulai Modal Bisnis 'Bangun Bisnis, Siapa Takut?' yang dilakukan secara daring pada Sabtu, 24 Juli 2021 mengatakan, dalam membangun usaha jangan biarkan rasa takut menjadi berlebihan apalagi menghalangi dan membuat kalah sebelum mulai berperang.

"Yang penting jalan dulu aja. Kalau kita tidak pernah mencoba, maka tak akan pernah tahu hasilnya. Jualan aja dulu, pikiran kita didesain untuk menghindari sesuatu hal yang baru. Jangan tunggu nanti, kalau bisa coba sejak sekarang," kata Jeffry

Dalam merintis sebuah bisnis, tambahnya, memang tidak langsung membuahkan hasil yang manis. Namun bila dalam pikiran para pemula adalah dominasi bayangan kegagalan, maka usahanya pun tak akan pernah dijalani.

Mismanajemen Usaha Kecil

Perkara ketakutan dalam memulai atau menjalan bisnis juga ditemui oleh Ir.Petrus Gandamana, mentor usaha startup kuliner dan teknikal F&B. Dalam suatu sesi Coaching Clinic yang diselenggarakan Team BARECA di awal Februari 2023 lalu pada kegiatan I Love Food Bazaar di Pusat Perbelanjaan elit Plaza Indonesia Jakarta Pusat, ada seorang peserta bertanya kepadanya : Bagaimana mengelola usaha mikro yang manajemennya morat-marit karena semua dia tangani sendiri.

Konsumennya banyak, tapi tak sanggup dia layani. Produknya berupa cemilan yang dia buat sendiri, dan juga ada produk dari teman dan tetangga yang dititipkan pada dia, karena tahu usaha dia ramai pembeli.

Petrus lalu bertanya mengapa semua dia kerjakan sendiri? Dijawabnya kalau dia merekrut karyawan dia merasa takut kalau nanti usahanya sepi maka dia tidak sanggup menggajinya. Dari jawaban itu bisa dipahami bahwa hampir sebagian besar pengusaha dihantui oleh ketakutan, yang sering tidak beralasan atau secara logika mungkin benar, namun mungkin juga tidak. Mengapa?

"Pertama saya berikan pemahaman kepada sang pengusaha, katakanlah namanya Ibu Sinta, bahwa saat kita menjalankan usaha ada pilihan : menjual produk dalam jumlah banyak namun labanya tipis, maka volume penjualan harus tinggi agar tercapai target laba yang ditetapkan dan menutup biaya operasional untuk melaksanakan target penjualan yang tinggi volumenya."

Pilihan kedua adalah menjual produk yang tebal laba marjinnya, namun konsekuensinya mungkin volume tidak besar, yang bagi sebagian orang dianggap demikian, karena jumlah pasarnya lebih sedikit daripada produk yang dijual dengan marjin laba tipis.

"Pada pilihan jenis ini produk harus memiliki nilai yang tinggi dan unik, sehingga pembeli yang bersedia membayar dengan harga tinggi, merasa sepadan atau merasa dirinya spesial karena mendapatkan produk yang tidak dibeli kebanyakan orang," Petrus menjelaskan.

Menurut Petrus yang pendiri BARECA Media & Training, untuk bisa memilih kedua pilihan tersebut, tentu harus melihat kemampuan dan kondisi kita. Mulai dari kemampuan diri sanggup mengelola pasar yang mana, alat kerja dan sarana produksi yang dimiliki, juga adanya tim produksi dan pemasaran serta penjualan, yang sanggup berkomitmen dan kompeten dalam melayani segmen pasar yang mana.

Filosofi bisnis kita dan kepercayaan pada produk kita juga harus seirama dan dipegang teguh untuk melayani target pasar yang dipilih. Setelah meyakini target pasar yang cocok dengan kondisi kita, maka perlu disiapkan suatu perencanaan produksi dan pemasaran (merek, komunikasinya, promosinya, strategi distribusi dan penetapan harganya) serta penjualan (sistem penjualan, promo penjualan, waktu pembayaran, logistik dan portofolio produk).

"Saya memahami sekali bahwa usaha mikro dan kecil banyak yang tidak sanggup mengatur dan melaksanakan semua hal tersebut sendiri atau oleh tim kecilnya, belum lagi pengaturan keuangan dan sumber daya manusia tentu juga memerlukan perhatian," sambung Petrus.

Untuk itu dia menyarankan agar melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki kompetensi pada bidang tertentu yang dapat mendukung kegiatan usaha kita dengan maksimal, termasuk dalam hal ini memilih dan bekerjasama dengan Mentor yang kompeten dan berpengalaman.

Karakter dan Kompetensi Karyawan atau Kolaborasi Positif

Petrus memberi contoh, misal untuk kegiatan pemasaran bisa dipertimbangkan untuk kerjasama dengan pihak agensi pemasaran, untuk keuangan juga demikian, untuk produksi bisa melakukan kerjasama mark-loan dengan usaha lain yang kelebihan kapasitas produksi dan menerima pesanan dari luar dengan harga yang cocok.

Dari pengalamanan BARECA Media dan Training (www.barecamedia.com)  yang banyak memberikan pelatihan dan konsultasi agar kompetensi serta karakter karyawan yang direkrut sesuai dengan kebutuhan perusahaan atau pilihan lainnya, jika bisa dikerjakan pihak outsourcing atau pihak lain bagaimana hitungan bisnisnya.

Tapi sekali sudah yakin bahwa harus merekrut karyawan, maka percayalah bahwa sang karyawan akan terus menjadi tenaga penggerak pertumbuhan usaha. Menjadi aset penting perusahaan, bukan menjadi beban atau potensi beban kalau usaha lagi menurun.

Adanya tenaga kerja dalam tim jangan dipikirkan akan membuat usaha menjadi menurun namun kegiatan usaha menjadi berputar lebih maksimal, karena tersedia sumber daya yang siap dan pas dalam melayani pasar dan potensi pasar.

"Setelah berdiskusi sejam dan mendengar paparan, Ibu Sinta merasa lega dan seperti terpicu semangatnya, sambil melihat kertas catatan dari hasil diskusi dengan saya tersebut," tutur Petrus.

Sebagai pengusaha ibu Sinta sudah memiliki ide dan rencana untuk segera menggulirkan kegiatan bisnisnya dengan target pasar yang jelas. Perencanaan sumber daya dan kolaborasi yang akan dijalankan dengan siapa untuk mendukung usahanya, termasuk para teman dan tetangga yang menitipkan produknya pada dia, harus dijalankan bagaimana pola kerjasamanya ke depan.

Ibu Sinta juga memahami bahwa berbagai pelatihan yang perlu bagi peningkatan kompetensi dan kapasitas usahanya, mutlak diperlukan olehnya atau anggota timnya, sehingga usahanya bisa tumbuh secara jangka panjang.***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/6408dac43788d40c45467e12/ketakutan-berbisnis-nyaman-dalam-ketidaknyamanan



0

Dalam Doa Membuka Pintu Ketiga di Paris


Suporter Indonesia selalu memenuhi stadion saat tim kebanggaan Garuda Muda tampil di ajang Piala Asia U-23 di Qatar. (Foto: PSSI)

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri

(Puisi "Rajawali" karya WS Rendra)

Rajawali adalah burung penerjang badai. Ketika badai datang, ia tetap terbang bahkan akan lebih tinggi dari awan badai hingga menembus awan.

Tak mengherankan jika banyak ahli yang menjuluki burung rajawali sebagai "the king of birds", atau hewan penguasa langit, karena kemampuan fisiknya yang di atas rata-rata burung pada umumnya.

Selain kemampuan daya jelajah terbangnya ia juga memiliki penglihatan yang tajam yang dapat mendeteksi mangsanya secara akurat dari ketinggian yang sangat tinggi.

Berbagai kelebihan fisiknya tersebut membuat rajawali sangat peka namun tetap tenang dalam berbagai situasi.

Timnas Indonesia U-23 juga penerjang badai, yang bersiap mencetak sejarah lagi untuk lolos ke Olimpiade 2024 di Paris.

Badai itu akan diterjang di Paris menghadapi Guinea dalam laga play-off di Centre National du Football Clairefontaine pada Kamis, 9 Mei 2024 pukul 20.00 WIB.

Jika berhasil meraih kemenangan, Timnas Indonesia U-23 akan masuk Grup A Bersama tuan rumah Prancis. Sedangkan dua tim lainnya adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru.

Pintu Ketiga

Apa yang bisa berikan sebagai bekal bagi Timnas Indonesia U-23 yang dijuluki Garuda Muda, untuk membuka pintu ketiga agar kaki-kaki mereka bisa melangkah ke Olimpiade 2024?.

Satu hal yang pasti adalah doa, dengan cara kita masing-masing. Karena doa adalah harapan. Harapan untuk memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi rakyat melalui sepakbola.

Tentang doa itu, Chairil Anwar menulis di dalam puisi "Doa":

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh

Perjuangan Indonesia dalam Piala Asia 2024 memang susah sungguh. Susah karena dianggap anak bawang, tim debutan di tengah kepungan negara besar (Qatar, Yordania dan Australia). Namun dari susah itu sejarah mampu diguratkan.

Target yang diberikan PSSI untuk melaju ke perempat final alias 8 besar dijawab dengan langkah ke semifinal. Raksasa Asia seperti Australia, Yordania dan Korea Selatan ditaklukkan.

Sudahkah doa dibisikkan meski dalam bisu? Dilafalkan dalam harap dan cemas. Bukankah Tuhan bagi siapa saja dalam doa semua orang?.

Setelah kalah dari tuan rumah Qatar, dengan wasit yang memihak, Indonesia mengalahkan Australia. Hanya butuh hasil imbang, kita malah melibas Yordania 4-1.

Di perempat final, sesuai target yang dibebankan, kita singkirkan Korea Selatan lewat adu penalti yang mencekam. Tendangan Pratama Arhan ke sisi kiri gawang Korsel mengakhiri drama penalti, memastikan Indonesia mencetak sejarah lagi dengan melaju ke semi final.

Semua bersorak, memuji dan memuja pasukan Garuda Muda. Indonesia melangkah ke semifinal. Pencapaian luar biasa yang membuat sudut-sudut kota dan desa menggelar nonton bareng (nobar).

Momen yang juga dimanfaatkan oleh para politisi, dengan menyediakan layar lebar untuk nobar. Poster disebar, tentunya dengan foto para pemain Timnas U-23 dan sang politisi.

Namun kita mengalami kekalahan dua kali beruntun. Di semifinal harus menyerah 2-0 dari Uzbekistan yang memang satu kelas di atas kita. Lalu diperebutan juara ketiga kalah 1-2 dari Irak.

Momen saat Timnas Indonesia U-23 lolos ke Piala Asia 2024. (Foto : Getty Images)

Sepatutnya doa-doa tetap terus mengiringi langkah Garuda Muda atas dua kekalahan itu. Doa untuk lebih sabar, mengembalikan mental yang terpuruk dan membuka satu pintu lagi di Paris.

Namun, kita harus menghadapi kenyataan banyak cacian yang terlontar atas dua kekalahan beruntun itu. Beberapa pemain seperti Marselino Ferdinan dipojokkan karena dianggap egois saat melawan Irak.

Sebagian dari kita seolah lupa kontribusi Marselino sejak babak penyisihan. Lupa bagaimana ia memberi assist yang membuahkan gol indah oleh Witan Sulaiman. Lupa ia juga mengerek nama Indonesia dengan gol indahnya saat menghadapi Yordania.

Marselino juga menjadi pemain tersubur dengan dua gol bersama Rafael Struick dan Komang Teguh.

Lebih dari itu, kita seolah lupa bagaimana kita mengelu-elukan mereka karena mencetak sejarah dengan maju ke semifinal. Apakah setelah itu, segala pujian dan pujaan begitu cepat menjadi makian?.

Bukan Berlibur

Kekalahan dari Uzbekistan dan Irak bukan hal yang perlu disesali. Keduanya punya kualitas di atas kita.

Ranking Indonesia adalah 134, jauh di bawah Uzbekistan yang menempati urutan ke-63. Sedangkan Irak di urutan 58.

Sebelumnya kita sudah menumbangkan Australia yang punya ranking 25, Korea (23) dan Yordania (70),

Tak hanya perkara perbedaan ranking FIFA yang begitu besar, kita juga harus melihat bagaimana melelahkannya menjalani jadwal dari babak penyisihan hingga semifinal.

Mereka berangkat dari tanah air pada 1 April 2024 untuk berlatih hingga 10 April 2024, termasuk melakoni uji coba di Dubai, Emirat Arab. Timnas Arab Saudi U-23 jadi lawan tanding dengan hasil Indonesia kalah 1-3. Di perempatfinal, Arab Saudi ditaklukkan Uzbekistan.

Tiga hari kemudian menjajal Timnas UEA U-23, dan berhasil menang 1-0 lewat gol Witan Sulaiman.

Dari Dubai, para pemain menuju Qatar untuk melakoni babak penyisihan Grup A. Pertandingan pertama pada 15 April menghadapi Qatar, 18 April vs Australia, 21 April vs Yordania. Babak penyisihan berhasil dilewati.

Hanya berselang 4 hari kemudian, tepatnya 26 April melakoni pertarungan yang sangat melelahkan fisik dan mental menghadapi Korea Selatan. Adu penalti yang mencekam berakhir dengan skor 11-10 untuk Indonesia.

Mereka hanya punya waktu 2-3 hari recovery fisik saat melakoni laga di semifinal menghadapi Uzbekistan, 29 April 2024. Lalu tiga hari bersiap memulihkan fisik dan mental untuk bertemu Irak, 3 Mei 2024.

Penonton berdebar, tegang saat menyaksikan kesemua laga itu. Bisa dibayangkan, bagaimana para pemain yang berjuang di lapangan. Tak hanya fisik yang terkuras, mental pun tergerus.

Sanjungan atas keberhasilan menembus semifinal dengan mengalahkan raksasa Korea Selatan tak terelakkan. Namun, pada sisi lain bisa menjadi bumerang. Para pemain pasti membaca segala puja-puji itu di media sosial atau media online. Mental para pemain muda ini belum stabil.

Wajah-wajah tegang, grogi mewarnai laga menghadapi Uzbekistan. Mereka manusia biasa, apalagi dalam usia muda. Harapan rakyat Indonesia menjadi beban. Mereka kalah. Begitu juga saat menghadapi Irak.

Lalu segala perjuangan habis-habisan itu disikapi dengan caci maki, di tengah banyak yang masih berkepala dingin menyikapinya. Suporter sejati semestinya mendukung tim, baik menang maupun saat terpuruk dengan kekalahan. Apalagi ini tim nasional yang membawa wajah dan nama Indonesia.

Para pemain dan ofisial meninggalkan keluarganya lebih dari satu bulan untuk berjuang, bukan berlibur.

Dalam kelelahan fisik dan mental memang hadirnya keluarga menjadi obat mujarab. Namun, tentu hal ini terkait dengan akan dikeluarkannya dana tidak sedikit jika memboyong keluarga para pemain.

Maka, saat mereka bersiap membuka pintu ketiga menghadapi Guinea, doa adalah dukungan terbaik.

Guinea bukan lawan enteng, Prancis juga menjadi rumah kedua bagi banyak pemain Afrika, termasuk Guinea. Mantan pelatih Vietnam, Philippe Troussier bahkan secara terus terang menyatakan peluang menang sangat kecil.

Namun, kita sudah membuktikan Indonesia bukanlah tim yang bisa diremehkan. Bukan tim kaleng-kaleng. Pembuktian di Piala Asia U-23 2024 sudah membuka mata dunia, dan membuat Indonesia menatap pencapaian baru.

Pencapaian Indonesia adalah kegemilangan, kegembiraan yang membuat rakyat Indonesia bahagia. Membuat orang sejenak melupakan berbagai kesulitan hidup sehari-hari. ***

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/663b411b14709365890a6ff2/dalam-doa-membuka-pintu-ketiga-di-paris