Sunday, November 9, 2025

0

November Kita

Senja di depan rumah (Foto: Yo)


sembilan purnama kita berpisah. aku pergi seperti inginmu. melewati puluhan kota,menangisi kenangan yang tertinggal. aroma tubuhmu mengisi denyut kehidupan.


apa yang kau cari? letupan lupa mengiringi langkahmu.hari-hari yang pernah kita lalui, menjadi ruang kosong bagimu. selalu aku berpikir semua ini hanya sejenak saja. kita akan kembali bercakap seperti dulu. sebelum tersadar itu hanya mimpi.


sembilan purnama telah berlalu. memberi kenyataan katak ada lagi. angin mengantarmu lelap. hari-hari merangkak dalam pengap. semua berakhir tanpa bisa dimengerti. 


sudah kudatangi engkau yang terdiam. nanti aku akan kembali ke sana. mengajakmu berbicara meski tak ada jawaban dari yang terkata.


Pakis, 2025

Monday, October 6, 2025

0

Pemain Muda NTT Masuk EPA Persita, Bukan Hanya Kisah tentang Sepak Bola

Ketika orang berhasil, itu karena kerja keras. Keberuntungan tidak ada hubungannya dengan kesuksesan.-- (Diego Maradona) 

Aksi Cerilus Seran (kiri) dan Krisantus Glend (kanan) di lapangan. (Foto: kolase Yo, Dok.Malaka FC)


 Sore itu di sebuah lapangan di daerah Tangerang, para pemain Elite Pro Academy (EPA) U-20 Persita Tangerang sedang berlatih. Di tribun seorang lelaki tampak serius melihat latihan itu. Sesekali ia bertepuk tangan, berteriak memberi semangat. 

 Persita Tangerang sebagai salah satu klub Super League (nama baru Liga 1) yang cukup serius dalam pembinaan pemain, membuka peluang bagi talenta muda terbaik dari berbagai daerah. 

Lelaki itu, Hugo Venansius Nahak bukan orang baru di dunia persepakbolaan nasional, terutama dalam membina para pemain muda dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan beberapa pemain berbakat lainnya dari luar NTT. 

Saat ini ada 6 pemain muda yang tergabung sebagai pemain EPA Persita Tangerang untuk musim 2025/2026. Mereka bernaung di klub Malaka FC, klub yang dibentuk oleh Hugo dan isterinya, Ildefonsa Nahak pada tahun 2015. Klub amatir itu menjadi wadah para pemain muda berbakat dari NTT. 

Mereka adalah Gilbert Kapitan, Kota Kupang, yang berhasil menembus tim EPA U-18 Persita. Pemain yang menempati posisi sayap kanan ini berasal dari U-17 Persekota Kupang. Ia masih sekolah, pindah dari SMA Geovani Kupang dan saat ini melanjutkan pendidikan di SMA YP Karya Tangerang. 

Pemain lainnya yang masuk skuat EPA U-20 Persita adalah Fauzan Afa, gelandang tengah asal kota Kupang, Silvester Mali Rambo, sayap kiri dari Malaka FC. Selain itu masih ada dua pemain lainnya, yakni Krisantus Tahu Glend (winger kanan) dari Malaka FC, dan Debrito (bek kanan) asal klub Persamba Manggarai Barat. 

Kelima pemain mengikuti jejak seniornya, Cerilus Seran dan Rizky Ramadhan yang pada musim 2024/2025 memperkuat Persita meraih juara EPA U-20. 
 
"Untuk bisa masuk ke EPA tidaklah mudah. Para pemain berjuang keras untuk menghadapi persaingan ketat, seleksi teknis dan fisik, kedisiplinan dan mentalitas, kesiapan akademik dan sosial," tutur Hugo Nahak. 
 
Tantangan lainnya bagi para pemain dari daerah adalah masalah koneksi dan akses seleksi. Tidak semua daerah memiliki akses mudah ke seleksi klub besar. Pemain dari daerah pelosok seringkali kesulitan karena keterbatasan informasi, biaya perjalanan, atau minimnya jaringan pelatih. 

Dalam perkara ini, keberhasilan para pemain muda menapak untuk mewujudkan mimpinya menjadi pesepak bola profesional, jelas tak lepas dari peran Hugo Nahak. Pengusaha ban untuk truk dan bus ini memang dikenal konsisten mengembangkan sepak bola akar rumput di NTT. Ia berhasil meyakinkan banyak pihak bahwa anak-anak NTT memiliki potensi besar. Lewat jaringan, keuletan, dan dedikasi, Hugo berhasil membawa anak asuhnya ke klub besar seperti Persita Tangerang. 

Menurut ayah dua anak itu, semua pemain dari Malaka FC yang tergabung di EPA Persita saat ini atas pilihan pelatih dan manajemen melalui proses trial yg panjang. 

"Saya dan istri membawa mereka ke Jakarta untuk mengikuti trial selama 3-4 bulan atas ijin orang tua, keluarga dan dukungan dari Ketua Askab Manggarai Barat dan juga Asprov NTT," tambah penggemar Cristiano Ronaldo itu. 

Bukan Statistik 

Keberadaan mereka di EPA Persita bukan hanya angka statistik, melainkan cerita mimpi, pengorbanan, dan harapan untuk banyak orang di NTT dan sekitarnya. 

Mereka ingin menjadi pemain profesional di Persita dan klub Super League lainnya. Tentunya juga menggapai mimpi sebagai pemain tim nasional, seperti halnya pemain timnas NTT yakni Marcelino Ferdinan. "Motivasi terbesar mereka, dari sepak bola bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga. Semua pemain ini terlahir dari keluarga sederhana, bukan keluarga berada," tambah Hugo yang berterima kasih kepda Zaki Iskandar sebagai Owner Persita Tangerang. Juga kepada Pelatih Kepala EPA Persita Tangerang, Coach Ilham Jaya Kesuma 

Sosok Eddy Syahputra juga dinilainya banyak memberikan dorongan semangat kepada para pemain untuk tetap bekerja keras. Pengalaman Eddy sebagai agen pemain kawakan memberikan tambahan motivasi yang tidak kecil bagi pemain muda di Malaka FC. 

Keberhasilan anak-anak muda menembus skuat klub seperti Persita menjadi pemicu semangat mereka yang ada di NTT untuk bisa mengikuti jejak seniornya pindah ke Jawa. Meski begitu, perjalanan para pemain itu baru dimulai. Tidak bisa berhenti karena sudah puas menjadi bagian tim EPA klub yang berkiprah di Super League. Mereka tak hanya beradaptasi dengan latihan intensif dan standar profesional, tapi juga berada dalam atmosfir persaingan ketat dengan pemain muda dari seluruh Indonesia. Belum lagi harus menjaga mental agar tetap focus meski jauh dari keluarga. 

"Harapan besar kami orang NTT, dengan banyaknya anak-anak usia muda di EPA, dengan pengalaman mereka, mereka bisa mencetak prestasi di PON NTT NTB 2028 mendatang di cabor sepak bola," imbuh Ildefonsa Nahak. 

Sedangkan Hugo Nahak berpesan agar para pemain yang sudah berhasil menjadi bagian klub professional terus berlatih, menghindari pergaulan bebas, narkoba. Pengorbanan yang dilakukan akan menuai hasil di masa mendatang. 

Para pemain dari Malaka FC yang memilih Bogor Rumpin Cikoleang sebagai homebase tak hanya mampu menembus EPA Persita, tapi juga membela klub lainnya di Liga 4. Seperti Robertus Juni dan Rey Halek yang pada musim lalu membela Harimau Indonesia di putaran final Liga 4. Lalu Jerry Anugerah di Dejan FC, klub Liga 3 untuk musim 2025/2026. 

Pemain lainnya adalah Vito Bass Persipasi Bekasi FC dan Egidius Nino Club lama Putra Oesao Kupang yg bergabung ke tim Patriot Bekasi FC Liga 4 Jawa Barat. 

Kemudian Robertus Juti yg pada musim lalu membela Harimau Indonesia bersama Rey Halek pada putaran nasional liga 4. Robertus yang mantan kapten Serpong City saat ini menanti pinangan klub Liga 3. Satu lagi, Ado Tetik Klau juga menanti pinangan klub Liga 4. 

Selain itu, juga terdapat Vito Bass Persipasi Bekasi FC dan Egidius Nino Club lama Putra Oesao Kupang yg bergabung ke Patriot Bekasi FC Liga 4 Jawa Barat. 

Masuknya para pemain muda NTT ke EPA Persita Tangerang dan klub-klub Liga 3 dan 4 bukan hanya kisah tentang sepak bola, tapi juga tentang mimpi, perjuangan, dan harapan. Ini adalah bukti bahwa kerja keras, dukungan keluarga, dan peran mentor seperti Hugo Venansius Nahak bisa mengubah jalan hidup anak-anak muda. 

NTT kini punya alasan lebih untuk percaya bahwa sepak bola bisa menjadi jalan menuju masa depan cerah. ***

Sumber: https://www.kompasiana.com/johannessugianto/68de3dca34777c63e528eae2/pemain-muda-ntt-masuk-epa-persita-bukan-hanya-kisah-tentang-sepak-bola

Sunday, September 7, 2025

0

WAIYA : Bukan Sekadar Berkumpul dan Bernostalgia

 

Taman WAIYA, sumbangan dari WAIYA 81 untuk FH Universitas Brawijaya pada 2016 (Foto : Dok. WAIYA 81)

Komunitas atau paguyuban dari alumni sebuah fakultas merupakan wadah yang dibentuk untuk menjaga silaturahmi, memperkuat jejaring profesional, serta memberikan kontribusi nyata bagi almamater dan masyarakat.

Di Indonesia, paguyuban alumni fakultas hadir hampir di seluruh perguruan tinggi besar maupun kecil, baik negeri maupun swasta. Mulai dari tingkat fakultas hukum, ekonomi, teknik, kedokteran, hingga ilmu sosial, semua memiliki komunitas alumni yang berfungsi sebagai pengikat lintas generasi.

Keberadaan komunitas ini semakin penting di tengah persaingan global, di mana jejaring (networking) bisa menjadi modal sosial yang sangat berharga.

Paguyuban ini terbentuk karena kesadaran bahwa perjalanan panjang para alumni—yang kini berkarier di berbagai bidang seperti hukum, pemerintahan, bisnis, dan pendidikan—perlu diikat dalam sebuah wadah yang rapi dan berkelanjutan.

Dalam perkembangannya, komunitas itu bukanlah sekadar wadah nostalgia atau ajang reuni, melainkan ruang kebersamaan yang mampu melahirkan jejaring, gagasan, dan aksi nyata bagi almamater maupun masyarakat.

Di antara sekian banyak komunitas alumni di Indonesia, salah satu yang menarik perhatian adalah WAIYA, sebuah wadah bagi alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya angkatan 1981(FH UB 1981).

Reuni terakhir di Malang (Foto : Dok.WAIYA)


WAIYA sering dianggap sebagai nama yang unik. Banyak yang penasaran dan menafsirkan apa makna nama itu.

Ada yang menganggap nama WAIYA kemungkinan besar diambil sebagai singkatan atau sebutan khas yang lahir dari kebersamaan angkatan 1981 FH UB. Hal ini mengacu banyaknya komunitas alumni yang menciptakan istilah atau jargon unik sebagai penanda identitas, sehingga mudah dikenali dan melekat di antara anggotanya.

Selain itu ada yang menduga nama WAIYA dipilih karena terdengar ringan, mudah diucapkan, dan punya nuansa akrab. Hal ini sesuai dengan semangat komunitas alumni yang lebih menekankan pada rasa persaudaraan, kebersamaan, dan nostalgia, ketimbang formalitas.

Ada kemungkinan lain, WAIYA dipilih karena memiliki makna khusus yang dikenal oleh para anggota angkatan 1981. Bisa jadi kata ini lahir dari pengalaman bersama, humor internal, atau istilah populer saat mereka kuliah dulu. Nama tersebut akhirnya menjadi simbol perjalanan panjang, sekaligus pengikat emosional yang kuat.

Menurut Hero Samudra, salah satu pencetus komunitas itu, nama WAIYA diambil dari sebuah lagu ciptaan Cak Cholik, senior Angkatan 1975.

“Lagu itu sering dinyanyikan saat berlangsung Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) alumni FH Universitas Brawijaya tahun 1981. Seakan menjadi lagu wajib dan nama kebanggaan bagi alumni Angkatan 1981,” ujar Hero yang mantan Ketua Ikatan Alumni FH UB periode 2009 hingga 2023.

Pembentukan WAIYA sendiri pertama kali dicetuskan oleh beberapa alumni FH UB Angkatan 1981 di hotel Le Meridien Jakarta pada 1995. Mereka antara lain Hero Samudra,Zaenal Abidin,Sukarnyo,Fitrah,Puguh Waluyo dan Ginung.

Awalnya WAIYA sekedar ingin berbagi dan menolong alumni FH UB  angkatan 1981yg kurang beruntung dalam perjalanan hidupnya, dan sedang menghadapi musibah.

 Identitas Tersendiri

Dengan nama khas seperti WAIYA, alumni FH UB angkatan 1981 punya identitas tersendiri yang membedakan mereka dari angkatan lain, sekaligus memberi warna dalam jaringan besar alumni Universitas Brawijaya.

WAIYA juga memiliki keunikan karena dibangun oleh angkatan yang sudah matang dengan pengalaman hidup dan profesional. Hal ini menjadikan setiap pertemuan bukan hanya ajang bernostalgia, melainkan juga forum berbagi pengalaman, refleksi, dan pembelajaran lintas bidang.

Di dalamnya terhimpun para praktisi hukum, akademisi, birokrat, hingga wirausahawan yang memiliki satu benang merah: kecintaan terhadap Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dari kecintaan itu lahir kepedulian untuk terus berkontribusi, baik kepada almamater maupun kepada masyarakat luas.

“Sudah semestinya alumni FH UB 1981 memberikan kontribusi juga kepada almamaternya. Kontribusi itu tak mesti berupa uang, tapi pengetahuan, praktek hukum atau berbagai tips yang pasti bermanfaat bagi generasi penerusnya,” cetus Sumali, salah satu anggota WAIYA yang pernah menjadi Hakim Tipikor di Bali. Kini Sumali menjadi dosen di FH Universitas Muhamadiyah Malang.

Kehadiran WAIYA bukan hanya menjadi bukti eratnya ikatan emosional para alumninya setelah lebih dari empat dekade meninggalkan bangku kuliah, tetapi juga menunjukkan bagaimana persaudaraan intelektual dapat bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang membawa manfaat lebih luas.

“Persaudaraan harus tetap dijaga. Spirit ini perlu diwariskan kepada anak cucu kita, agar tak padam meski usia makin menua, beberapa teman juga sudah tiada. Seduluran ini penting,” kata Wahyuningsih yang sering ikut berbagai acara WAIYA.

Komunitas alumni seperti WAIYA memperlihatkan bahwa hubungan antar individu yang terjalin di kampus dapat tumbuh semakin kokoh seiring waktu. Ikatan tersebut tidak lagi terbatas pada pengalaman akademik semata, tetapi berkembang menjadi jaringan yang memberi dukungan dalam karier, kehidupan sosial, hingga kepedulian terhadap isu-isu kebangsaan.

Dari lingkup sederhana, seperti menjaga silaturahmi, hingga gagasan besar, seperti kontribusi pemikiran hukum bagi bangsa, komunitas ini menunjukkan wajah baru alumni sebagai agen perubahan.

 WAIYA Care

Menariknya, perkembangan WAIYA juga sejalan dengan tren komunitas alumni di berbagai perguruan tinggi yang semakin profesional dan terorganisir. Jika dahulu alumni hanya berkumpul saat ada acara perayaan tertentu, kini komunitas alumni seperti WAIYA merancang kegiatan berkelanjutan, mulai dari bakti sosial, penguatan jejaring profesi, hingga program mentoring bagi mahasiswa.

Meski begitu, WAIYA sendiri tidak memiliki struktur seperti laiknya organisasi lainnya. Organisasinya cair, tidak ada pemimpin seperti ketua atau sebutan hirarki kepengurusan. Semuanya memiliki posisi yang sama yakni alumni FH UB 1981.

“Jika ada suatu kegiatan, baru dibentuk Panitia Ad-hoc,” tutur Sukarnyo yang dikenal sebagai Bendahara WAIYA Care, yang merupakan bagian dari WAIYA dan dibentuk untuk membantu sesama anggota.

“Kita tahu, perjalanan hidup seseorang tidak selalu mulus dan lancar seperti lainnya. WAIAY Care mengumpulkan dana untuk membantu anggota yang mengalami kesulitan hidup, semisal untuk berobat atau meringankan beban saat ada yang mengalami musibah,” tambahnya.

Bantuan itu diputuskan oleh Tim Pertimbangan yang memiliki beberapa anggota yakni Anshorul, Rachmat Syaffat, Hero Samudra, Esti, Wenda, Sukarnyo dan Zaenal Abidin.    

WAIYA sendiri tidak hanya mengadakan reuni, tapi juga acara kumpul-kumpul untuk saling berinteraksi dengan teman dan keluarganya. Misalnya jalan-jalan, bernostalgia, menikmati pemandangan dan suasana baru.

Selain itu, tidak jarang, para alumni juga memberikan kuliah umum, seminar, maupun mentoring untuk mahasiswa, sebagai bentuk transfer pengetahuan dan pengalaman dari generasi yang telah lebih dulu berkiprah di dunia profesional.

Kegiatan-kegiatan tersebut membuktikan bahwa WAIYA bukan sekadar perkumpulan nostalgia, melainkan wadah aktualisasi peran sosial alumni. Melalui jejaring yang luas, komunitas ini mampu menjadi jembatan antara dunia kampus dengan realitas praktik hukum dan kehidupan bermasyarakat. Dengan begitu, keberadaan mereka tidak hanya dirasakan oleh sesama alumni, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi publik yang lebih luas.

Menua

Namun demikian, perjalanan sebuah komunitas alumni tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga keberlanjutan dan relevansi organisasi di tengah kesibukan para anggotanya yang tersebar di berbagai daerah bahkan luar negeri.

Selain itu, regenerasi kepengurusan dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi komunikasi juga menjadi faktor penting agar organisasi tetap hidup dan dinamis. Jika tantangan ini dapat diatasi, WAIYA berpotensi terus menjadi teladan bagi komunitas alumni lainnya dalam membangun sinergi positif antara kebersamaan, keilmuan, dan pengabdian sosial.

Hero Samudra juga mengakui kendala yang ada dalam kiprah WAIYA. Usia anggotanya yang semakin menua, kesibukan pekerjaan sehari-hari dan jarak yang jauh serta sempitnya waktu adalah hal yang sering terjadi.

“Awalnya alumni FH UB Angkatan 1981 sebanyak 224 orang,sekarang yang aktif ikut reuni sekitar 50 sampai 75 orang. Kalaupun lebih dari 75 orang karena ada alumni yang selalu bawa pasangannya,” tambah Hero sambil tersenyum.

Dengan adanya contoh seperti WAIYA, terlihat bahwa komunitas alumni fakultas bukan hanya nostalgia, tetapi juga bisa menjadi wadah profesional, sosial, dan pengabdian.

Kehadiran WAIYA menunjukkan bahwa paguyuban alumni bukan sekadar nostalgia, tetapi bisa menjadi wadah solidaritas lintas profesi, inspirasi bagi angkatan lain di FH UB dan fakultas lainnya. Selain itu juga menjadi sarana kontribusi nyata untuk masyarakat dan almamater. ***

Thursday, May 29, 2025

0

Meski yang Ada

 


setiap lagu yang menemani

aku selalu terkenang kamu

meski yang ada hanyalah kegetiran

tidak seperti dulu aku tenggelam 

dalam ketidakberdayaan


kini aku sendirian di hari-hari

yang begitu cepat menghilang

segalanya tinggal jadi bayang

entah kau tahu atau pura-pura tidak tahu

tapi telah kuenyahkan dirimu


kau tahu aku selalu suka senyummu

yang kini jadi iblis begitu sinis

dan aku tak pernah tahu

apa yang merasukimu

sebelum tawa itu membuangku


aku tak mengeluh atas perpisahan

meski aku pernah bersimpuh harapkan 

tapi tawamu saja yang kudengar

tak peduli begitu sakit tersebar

di malam-malam yang terkapar


Pakis, 2025 


Thursday, January 30, 2025

0

PSIS Semarang Dalam Tantangan, Prestasi dan Fondasi

Wisesa Soccer Field yang berlokasi di Pondok Majapahit, Bandungrejo, Mranggen, Kabupaten Demak (Sumber : Tribun Muria.com)

Tidak banyak klub yang buka suara soal tunggakan untuk biaya operasionalnya. Selain soal gengsi bisa juga sikap diam itu punya maksud menenangkan para pemain dan suporter.

Namun, langkah berbeda dilakukan oleh PT Mahesa Jenar Semarang (MJS), induk dari klub PSIS Semarang. Setelah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), 17 Januari 2025, disampaikan adanya hutang sebesar Rp 45 miliar. Hutang itu, seperti disampaikan Komisaris Utama PT MJS, Yoyok Sukawi, digunakan untuk biaya operasional klub selama dua tahun (2023 dan 2024).

PT MJS akan mengatakan kembali RUPS pada Februari 2025 mendatang terkaitsetoran modal para pemegang saham untuk menutup tanggungan utang tersebut.

Para pemilik saham PT MJS itu adalah Alamsyah Satyanegara Sukawijaya (Yoyok Sukawi), Heri Sasongko, Trias Iskandar, Kairul Anwar, dan Setyo Agung Nugroho. Mereka mendapat prioritas utama melakukan pembelian saham yang belum ditempatkan.

Jika lewat jangka waktu pada RUPS berikutnya itu, maka akan ditawarkan kepada investor dari luar. Nantinya hasil pembelian saham tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan tanggungan yang dimiliki PT MJS.

Apa yang terjadi pada PSIS Semarang tak beda dengan yang dialami klub-klub Liga 1 lainnya. Bahkan klub sekelas Bali United yang menjadi tim pertama melantai di bursa efek juga mengalami kerugian yang tidak sedikit pada semester pertama 2024.

Laporan keuangan PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, perusahaan pengelola Bali United, menunjukkan bahwa klub tersebut mencatatkan kerugian hingga Rp69,8 miliar pada semester pertama 2024.

Bisa dibayangkan bagaimana beban finansial pada klub-klub Liga 1 lainnya. Padahal Bali United dikenal memiliki ekosistem bisnis yang lebih maju dibandingkan klub lain.

Persiapan

Pernyataan adanya tunggakan sebesar Rp 45 miliar dari PT MJS, selain keberanian untuk terbuka, pada sisi lain menunjukkan upaya untuk tak berhenti mempersiapkan diri sebagai klub yang lebih profesional dan komersial.

Seperti dikemukakan oleh Yoyok Sukawi yang CEO PSIS Semarang, dikutip dari Youtube Chandra Margatama, 10 Desember 2022,bahwa saat promosi ke Liga 1 pada 2017, klubnya sudah punya program jangka pendek, menengah dan panjang. 

Industrialisasi dalam sepak bola mengacu pada proses di mana aspek-aspek olahraga, termasuk klub dan pertandingan, menjadi lebih profesional dan komersial. Dalam konteks PSIS Semarang, yang pernah merengkuh gelar juara Liga Indonesia Perseritakatan pada 1987, industrialisasi mungkin melibatkan beberapa aspek berikut:

“PSIS Semarang sudah mengadopsi model pengelolaan yang lebih profesional, seperti memperkuat manajemen klub, termasuk dalam aspek finansial, pemasaran, dan pengembangan pemain,” tutur Yoyok Sukawi yang juga CEO PSIS Semarang.

Seperti sistem rekrutmen pemain yang mulai mengikuti standar internasional, dengan mempertimbangkan nilai pasar dan potensi investasi dalam pemain muda.

Di bidang Komersialisasi dan Sponsorship PSIS Semarang telah meningkatkan pendapatannya melalui kerja sama dengan sponsor lokal dan nasional. Misalnya, kerja sama dengan sponsor untuk jersey, papan reklame stadion, atau hak siar pertandingan.

Sedangkan penjualan merchandise resmi klub, seperti jersey, aksesoris, dan produk-produk lainnya, juga menjadi salah satu sumber pendapatan.

Yoyok Sukawi yang juga anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI juga menjelaskan tentang fasilitas dan infrastruktur.

Stadion Jatidiri sebagai markas PSIS telah mengalami renovasi besar untuk memenuhi standar modern. Fasilitas ini memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pemain dan penonton.

Keseriusan

Tak kalah pentingnya adalah pengembangan akademi sepak bola menjadi fokus untuk mencetak pemain muda berbakat, mendukung keberlanjutan klub.

Keseriusan komitmen PSIS Semarang dalam pengembangan pemain muda melalui pendirian PSIS Development, sebuah akademi yang berfokus pada pembinaan talenta sepak bola usia dini.

PSIS Development difokuskan untuk mencetak pemain yang dapat memperkuat tim utama PSIS serta tim nasional Indonesia di masa depan. Hal ini menunjukkan visi jangka panjang klub dalam kontribusinya terhadap sepak bola nasional.

Para siswa tidak hanya mendapat program latihan dan uji coba bertanding, tetapi tetap mendapatkan pendidikan melalui Boarding School. PSIS Development pada tahun ajaran 2024/2025 menggulirkan program sekolah asrama setingkat SMP hingga SMA bagi calon pesepak bola profesional.

Program ini menawarkan fasilitas penginapan, metode pembelajaran home schooling, lima set seragam lengkap, perlengkapan latihan, menu makanan standar atlet, dan kesempatan mengikuti kompetisi. Ditunjang dengan fasilitas pelatihan modern seperti gym dan ruang analisis video.

Biaya yang ditetapkan meliputi uang pangkal sebesar Rp15 juta dan uang sekolah Rp5 juta per bulan.

“PSIS Semarang menerapkan metodologi khusus dalam mengembangkan tim development. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan para pemain muda mendapatkan pelatihan yang sesuai dengan standar profesional, sehingga siap berkontribusi bagi tim utama PSIS di masa depan,” jelas Yoyok Sukawi.

“Pembinaan lengkap dari kompetisi internal sampai klub satelit liga 2 liga 3 liga 4. PSIS punya semuanya.”  

Sementara itu, untuk meningkatkan basis penggemar, baik di dalam negeri maupun internasional, klub yang sudah berdiri sejak 1932 itu semakin memanfaatkan media sosial dan platform digital.

Aktivitas online seperti live streaming pertandingan, promosi media sosial, dan konten digital interaktif telah menarik lebih banyak perhatian publik. 

PSIS juga meningkatkan kolaborasi dengan stakeholder melalui jalinan kerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas suporter, dan pelaku industri lokal untuk mempromosikan perkembangan sepakbola di Semarang.

Kolaborasi dengan komunitas suporter (seperti Panser Biru dan Snex) juga akan menciptakan ekosistem pendukung yang kuat.

Stakeholder lain yang disasar adalah para siswa sekolah menengah melalui kunjungan ke sekolah-sekolah. Ini merupakan bagian dari upaya mengenalkan dunia sepakbola kepada generasi muda lewat program "PSIS Goes to School".

Program ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan bakat siswa sekolah di Semarang terhadap olahraga sepakbola, sekaligus menjaring talenta potensial untuk dibina lebih lanjut.

Pengembangan Fasilitas

Keseriusan manajemen PSIS juga bisa dilihat dalam penyediaan berbagai infrastruktur untuk mendukung pengembangan klub, termasuk tim utama dan akademi.

Kandang PSIS yakni Stadion Jatidiri di kota Semarang sudah selesai direnovasi dan mampu menampung lebih dari 20.000 penonton. Selain rumput brkualitas tinggi sesuai standar FIFA, terdapat fasilitas pendukung seperti ruang ganti modern, area VIP, dan ruang konferensi pers.

Stadion ini terus ditingkatkan untuk memenuhi standar Liga 1 dan internasional, sehingga bisa menjadi tempat yang nyaman bagi penonton serta pemain.

Tak ketinggalan adanya lapangan latihan tambahan yang digunakan oleh tim utama dan akademi untuk kegiatan sehari-hari. Lokasi lapangan sering kali disiapkan secara eksklusif untuk kebutuhan latihan intensif tim.

Saat ini PSIS sudah memiliki tiga lapangan latihan, yakni Wisesa Soccer Field, Stadion Citarum, dan Lapangan Telo Banyumanik.

“Mengelola PSIS di tengah berbagai tantangan membutuhkan inovasi dan strategi untuk tetap bertahan,” tegas Yoyok Sukawi tentang PSIS yang sudah mengantongi Club license AFC.

“Kondisi industri sepak bola kita belum sepenuhnya stabil. Tapi, kami terus berupaya agar PSIS tetap berjalan, baik melalui sponsorship, penjualan merchandise, hingga pembangunan fasilitas latihan yang bisa disewakan sebagai sumber pendapatan tambahan.”  

Pengembangan fasilitas ini untuk mendukung keberlanjutan klub jangka panjang. Menjadi salah satu langkah konkret untuk menciptakan stabilitas finansial di tengah tekanan besar biaya operasional, dan terbatasnya pemasukan dari empat sektor utama, yakni sponsor, tiket pertandingan, hak siar dan merchandise.

"Kalau kita sudah kuat pondasinya, keuangan kuat, prestasi itu akan datang dengan sendirinya," terang Yoyok Sukawi.

"Manchester United mungkin sekarang terseok-seok, prestasinya jelek, tapi dia nggak kurang-kurang beli pemain, ganti pelatih, duitnya enggak habis-habis." 

"Itu karena pondasinya sudah kuat, tinggal tunggu saja prestasinya datang. Saya ingin membuat PSIS sekuat Manchester United."

Ia juga mengibaratkan walau Manchester United bukan dalam performa terbaiknya saat ini, tapi tim tak kekurangan sehingga selalu bisa ambil solusi bagaimanapun keadaannya.

"Kalau kita sudah kuat fondasinya, keuangan kuat, prestasi itu akan datang dengan sendirinya," tambah Yoyok Sukawi dengan gamblang.**

Sumber : https://www.kompasiana.com/johannessugianto/67962f5734777c21764f4764/psis-semarang-dalam-tantangan-prestasi-dan-pondasi